Showing posts with label today's sermon. Show all posts
Showing posts with label today's sermon. Show all posts

Tuesday, September 23, 2008

Mister Nobody




(sumber: website mangucup)

Kota Osaka adalah kota no. 2 terbesar di Jepang setelah Tokio dgn jumlah penduduk hampir 9 juta orang, jadi termasuk kota yg padat dgn penduduknya, walaupun demikian ternyata orang tidak bisa mengetahui ada seseorang telah mati selama dua bln. Apabila orang tsb mati di dlm rumah ini masih bisa dimengerti, tetapi orang tsb matinya di depannya mall di pusat keramaian kota. Mayat dari orang tsb baru diketahui setelah dua bln meninggal oleh seorang supir taxi, disini kita bisa melihat betapa cuek bebeknya manusia pada jaman sekarang ini, maklum ia hanyalah seorang Mr. Nobody - Laporan dari CNN - 17.12.2003

Negeri Belanda yg telah mengirimkan ribuan misionaris ke Indonesia, untuk menginjili bangsa Indonesia, tetapi ironisnya pada saat sekarang ini, berdasarkan survey oleh siaran TV setempat, ternyata 1/3 dari jumlah penduduknya sdh tidak mengetahui lagi, makna dari Hari Natal itu apa, mereka lebih mengenal Sinter Klaas daripada Yesus. Mereka pikir hari Natal itu adalah hari pesta hura2 biasa seperti halnya Karnaval ataupun hari Valentine Day yg tidak ada kaitannya dgn agama sama sekali.

Dilain pihak orang bersedia untuk membayar harga satu return ticket sebanyak 170 milyar Rp atau 20 juta US$, hanya untuk satu trip selama sepuluh hari - jalan2 ke stasiun ruang angkasa dgn mengendarai roket Rusia. Hingga kini telah terjual sebanyak 4 ticket.

Apa yg akan Anda bisa dapatkan setelah perjalanan tsb? Selainnya masuk koran jadi beken Anda juga akan mendapatkan piagam penghargaan sebagai manusia yg pernah jalan2 keluar angkasa.

Tetapi apakah Anda tahu, bagaimana bekennya maupun bagaimana hebatnya seseorang di kolong langit ini, dunia dan orang2 disekitarmu, hanya akan meratapi orang tsb paling lama selama dua jam saja, setelah itu ia akan dilupakan untuk se-lama2nya, hal itulah yg diucapkan oleh Mark Twain. Lihat saja ketika Ibu Tien ataupun ketika John F. Kennedy wafat, berapa lama mereka berkabung, paling lama satu minggu setelah itu mereka melupakannya lagi.

Begitu juga dgn foto2 pada saat kita sedang berjabatan tangan dgn pejabat tinggi/selebritis, semua ijazah dari berbagai macam Universitas dan segala piagam penghargaan yg telah kita terima, pada saat kita mati, semuanya ini tidak ada nilainya sama sekali, sebab barang2 tsb hanya berharga bagi pemiliknya saja selama mereka masih hidup, tetapi setelah kita mati barang2 tsb akan jadi barang rongsokan untuk dibakar atau dibuang ketempat sampah. Jadi percuma saja kita membayar 20 juta US Dollar hanya untuk mendapatkan selembar piagam – benar2 hanya satu kesia-siaan saja.

Kita saling berlumba untuk mengejar harta, pangkat maupun nama di dunia ini, tetapi kalau direnungkan ini semuanya hanya satu kesia-siaan juga, sebab tidak ada satupun yg akan Anda bisa bawa keliang lahat, bagaimana tingginya pun pangkat Anda, ataupun bagaimana kayanya pun Anda suatu saat nama Anda akan terlupakan juga. Ayub 1:21 Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"

Semakin tua seseorang pada umumnya akan menjadi semakin bijak sehingga akhirnya akan timbul pertanyaan yg sdh ribuan tahun ditanyakan oleh jutaan manusia di kolong langit ini: “Apakah tujuan hidup kita ini? Untuk apa kita ini diciptakan?” Jawabannya adalah: The answer, my friend, is blowin' in the wind (lagu Blowin in the wind) - kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? (Pengkhotbah 1:2-3)

Sedangkan menurut Yakobus 4:14 …Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.

Kita di brainwashing se-akan2 kita ini sebagai satu ciptaan yg paling indah, paling eksklusiv, paling berhasil dan paling unik, bahkan kita bisa sesumbar sambil membusungkan dada, bahwa tidak ada manusia keduanya seperti kita di kolong langit ini, sehingga akhirnya timbul pertanyaan: “Siapakah aku ini?” – Jawabannya: “Kamu ini Mr Nobody alias tidak ada apa2nya” – siapapun kamu pada saat ini, entah Bush, entah Bill Gates, kamu hanyalah sekedar debu, karena dari situlah engkau berasal. Engkau dibuat dari tanah, maka engkau akan kembali kepada tanah. (Kejadian 3:19)

Maranatha
Mang Ucup
Email: mangucup@wanadoo.nl
Homepage: www.mangucup.org

Friday, July 25, 2008

Mengelola amarah.

Sermon : MENGELOLA AMARAH (Yunus 4:1-11)
Arisan Parsahutaon Rasamala, 28 Juli 2008
Pembawa Firman : R.A. Hutapea

Pendahuluan
Manusia mempunyai emosi yang membedakannya dengan mahluk hidup lainnya. Kadang-kadang emosi ini sangat kuat, hingga dapat menjungkir balikkan kehidupan kita. Emosi ini dapat berupa cinta, gembira, sakit, iri dan terlebih-lebih lagi yaitu marah, yang sering sukar kita kendalikan, bahkan mungkin mengendalikan kita. Mengapa kita memiliki perasaan ini ? Dari mana datangnya hal ini ? Ada yang berpendapat bahwa kita mempunyai perasaan ini, karena Tuhan juga mempunyainya. Didalam Alkitab kita juga menemukan contoh-contoh dimana Allah sendiri mengalami emosi semacam ini : kasih, murka, cemburu, senang dan sedih. Emosi ini menjadi bagian dari kita karena dia juga bagian dari Allah, dan kita diciptakan menurut rupa Allah. Namun ada juga orang berkata bahwa kita yang telah ‘memanusiakan’ Allah, yakni menciptakan Allah yang seperti kita, karena kita tidak mengenalNya dengan baik. Tapi jika ini benar, mengapa kita membuatNya Maha Suci ?
Sesungguhnya yang benar adalah ; Allah yang telah menguduskan kita. Dia menciptakan kita menurut rupa Allah, sehingga emosi kita yang terdalampun mencerminkan apa yang terjadi didalam hati Allah. Tetapi dalam perjalanan hidup manusia, kita telah mencemarkan dan menyelewengkan sifat ini dalam hidup sehari-hari, sehingga semakin sulit melihat rupa Allah didalam diri kita. Hasil dari semua ini adalah dunia yang penuh dengan immoralitas, penuh hawa nafsu. Amarah dan dengki duniawi berdampak destruktif, sedangkan amarah Allah selalu menghasilkan kebaikan yang konstruktif. Mari kita pelajari lebih jauh mengenai amarah ini dan nanti mencoba mencari cara untuk menanganinya.

Amarah dalam Alkitab
Allah beberapa kali harus marah kepada manusia yang menjauh dari padaNya (baca Iberani 3:10), yang menyembah illah lain (Deuteronomy 6:11), atau menyembah berhala (Keluaran 32: 9-10). Dalam kasus2 ini dosa manusia itulah yang mendatangkan amarah Tuhan.
Demikian juga Yesus, yang harus marah karena kedegilan kaum Farisi. Dalam Markus 3:5 Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabbat, dan mereka lebih mengutamakan hukum mereka daripada kasih Tuhan. Dikatakan disini Yesus melihat pada mereka dengan marah dan kecewa atas kebebalan mereka. Kita juga ingat Yesus yang menjungkirbalikkan barang-barang pedagang yang mencemarkan bait Allah. Musa juga marah atas insiden domba emas itu, dan kalau kita membaca Galatia kita tahu Paulus juga marah karena ajaran sesat didalam gereja.
Dari kasus-kasus itu dapatkah kita melihat jenis kemarahan ini? Ada hal-hal yang pantas dijadikan amarah : yakni apabila ini mengurangi hormat kepada Tuhan. Hasil amarah disini selalu konstruktif : Allah mempunyai rencana keselamatan ; Yesus menyembuhkan orang, membersihkan rumah Allah. Paulus memperbaiki jemaat di Galatia dan membela kebenaran. Artinya ada hal-hal dimana kita layak marah, meski lebih sering kita keliru dalam menyikapi dan menanganinya.

Amarah kita
Akan tetapi amarah dunia atau amarah kita, sifatnya jauh berbeda. Apa yang membuat kita marah dan bagaimana kita bersikap? Cobalah masing-masing kita berfikir dan mengingat sejenak, kapan terakhir kali anda benar-benar marah ? Apa yang menyulut kemarahan itu ? Mengapa anda marah ? Apa yang anda lakukan ? Bagaimana anda mengutarakan kemarahan itu?

Pada hakekatnya secara ekstrim manusia dibagi menjadi dalam 2 kelompok yaitu kelompok yang Mengumbar amarah dan kelompok Memendam amarah.
Pengumbar adalah orang yang langsung bereaksi marah kepada siapapun yang menyinggung pernya. Dia seorang yang temperamen, cepat naik darah. Contoh-contoh di jalan raya, di lapangan olahraga, di airport, stasiun, rumahsakit dll.
Apakah anda seorang yang dikenal galak, judes, bawel, sewotan dll ? Jika demikian maka kemungkinan besar anda seorang Pengumbar. Mari kita baca apa kata Alkitab mengenai ini. (Amsal 29:11 dan Amsal 29:22). Mengumbar perasaan amarah kita, mengamuk, memuaskan hawa nafsu amarah adalah hal yang bodoh, dan sering berakibat dosa. Betapa seringnya kita akhirnya menyesal akibat perbuatan marah ini dan membuat kita kehilangan sesuatu : benda atau persahabatan atau hubungan. Benarlah kata Amsal tadi.
Dikutub ekstrim satu lagi terdapat kelompok Pemendam, yaitu orang yang selalu menyimpan dalam hatinya, bahkan mengubur amarahnya jauh dalam-dalam. Meski kelihatan dia tenang, penuh penguasaan diri, namun orang ini menyimpan suatu benih sakit hati yang selalu bergerak didalam nuraninya. Alkitab juga memperingatkan kita atas adanya kelompok semacam ini. Didalam Efesus 4:26-27 dikatakan agar kita tidak menyimpan amarah kita. Amarah itu tidak akan pergi berlalu demikian saja. Dan tidak akan menjadi lebih baik bila kita biarkan atau cuekin. Memendam, memeram, menyembunyikan diam-diam kemarahan kita akan berakhir dengan dosa yang sering sama bahayanya dengan jika kita mengumbar amarah.

Nah, dapatkan anda mengelompokkan diri anda, Pengumbar atau Pemendam ? Saya merasa saya sendiri lebih tergolong kearah pemendam, meski kadang-kadang suka naik darah juga. Mari kita dengar kesaksian anda ..........

Menangani amarah
Saya mengingat ada film komedi yang dibintangi oleh Robert deNiro dan Billy Crystal yang berjudul ‘Anger Management’. Didalam kisah ini digambarkan suatu proses yang unik bagaimana seorang psikiater memberi latihan-latihan penguasaan amarah pada seorang eksekutif yang jelas sekali tergolong seorang pengumbar. Kelucuan pada film ini terletak pada proses yang terjadi dalam diri si pengumbar ini sebelum dia berubah dan menjadi sembuh. Namun yang diajarkan dalam Alkitab adalah benar-benar teruji dan mengena pada sasaran.
Pertama-tama, seorang pengumbar perlu belajar mengendalikan diri, bagaimana mencegah luapan amarah hingga kepuncaknya. Baca Amsal 16:32.
Si pengumbar perlu melatih diri untuk berfikir dulu baru berbicara. Dikatakan dalam James ‘ Kita harus cepat mendengar, lambat bicara dan lambat marah’ etc etc (Jakobus 1:19-20), Tapi memang sulit menjaga lidah jika darah sudah mendidih (naik ke otak?). Ada yang menggunakan tehnik NASA menghitung balik (countdown) dari 10 hingga 1 sebelum memulai berbicara. Tapi yang terbaik adalah mengucapkan kata-kata tentang buah-buah roh yang ada dalam Galatia 5:22-23. Kita akan sadar bahwa kalau kita marah, maka apa yang kita sedang lakukan adalah justru bertentangan dengan buah-buah rohani yang sedang bertumbuh di hati kita.

Bolehkah kita marah ?
Pertanyaan sekarang : kalau begitu apakah kita sama sekali tidak boleh marah ?
Sudah tentu, ada saatnya kita perlu tegas dan menunjukkan amarah kita. Misalnya orangtua yang marah pada anak2nya, jika mereka sangat nakal, persis seperti yang dilakukan Israel menimbulkan amarah Tuhan. Disiplin dari orangtua justru sangat perlu dalam mendidik anak. Tetapi kita harus selalu menjaga bahwa amarah kita itu terkendali, sehingga kata-kata yang tak pantas jangan sampai terlontar dihadapan anak-anak kita.
Jadi, jangan jadi Pengumbar, namun jangan juga jadi Pemendam, tetapi kita harus dapat mengatasi amarah, bahkan berusaha menyingkirkannya. Caranya?
Kembali pada pertanyaan tadi kita harus tahu dulu apa penyebab amarah kita. Mengapa kita marah ? Ini dapat ditemukan jawabannya dengan berdoa. Kita tak perlu malu membawa amarah kita pada Tuhan, menyerahkan semuanya. Jadi jika anda marah, berdoalah. Saat kita berdoa dan mencoba memahami mengapa kita marah, Tuhan akan menunjukkan apakah kita tak layak marah atau layak atau berhak untuk marah.

Tak layak marah
Kembali pada bacaan nats kita malam ini dari Yunus pasal 4. Dia marah pada Allah, yang menyuruhnya ke Niniveh, negeri penuh dosa itu. Kenapa sekarang Allah malah menyelamatkannya? Ini tidak sesuai dengan pemikiran teologis dia dan dia pantas marah pada Tuhan. Maka Tuhan berkata : Apakah kamu layak untuk marah padaku ? Yunus 4:1. Allah melihat Yunus tidak layak untuk marah. Allah adalah Allah yang dapat menyelamatkan siapapun yang Dia mau. Mendapat pertanyaan itu, Yunus tidak dapat menjawab, oleh karena itu Allah memberinya suatu pelajaran tentang amarah.
Dalam nats itu Yunus duduk memandang kota itu sambil menunggu apa nubuatnya akan terjadi dimana Allah akan menghancurkan kota itu. Hari sangat panas dan kering, jadi dia senang sekali ketika Allah menciptakan pohon vine melindunginya. Tapi keesokan harinya dia begitu marah ketika pohon itu mati dan kembali dia diterpa angin yang kering panas itu. Dia kembali marah. Allah bertanya lagi ”Apakah kamu berhak marah perihal pohon itu? Yunus 4:9. Jelas dia tidak berhak marah. Allah telah memberkatinya untuk sehari itu, dan mengambilnya hari esoknya. Kalau Yunus bijak maka dia akan beroleh hikmat dari pelajaran ini dan menyadari bahwa dia tak layak marah pada Tuhan. Tetapi dia tidak belajar apa-apa, dia malah berkata dia berhak untuk marah.
Kita juga demikian, sering kita marah kalau kenyamanan kita terganggu atau diambil. Kita terlalu egois, mementingkan urusan sendiri, melihat suatu kejadian hanya dari sudut pandang sendiri. Kemarahan kita terjadi jika kenyamanan kita diganggu. Jika kita mencoba memandang sesuatu dari sudut pandang Allah, maka kita akan sadar bahwa reaksi kita seyogyanya bukan marah, melainkan bertobat. Dengan sudut pandang ini maka amarah itu tidak lagi akan mengganggu kita.

Layak untuk marah
Tetapi ada kalanya, dari hasil doa-doa pribadi kita, kita ditunjukkan bahwa kita benar berhak untuk marah. Mungkin karena seseorang telah benar-benar menyakiti kita ; atau marah karena melihat seseorang diperlakukan sangat tidak adil.
Dalam kasus pertama, jika seseorang benar-benar menyakiti anda, maka hanya satu hal yang harus kita lakukan. Apa?
Bukan membalasnya, tetapi memaafkannya. Seorang Kristen, yang telah diampuni, maka diapun harus mengampuni mereka yang menyakiti kita. Doa Bapa Kami itu kadang-kadang sangat sulit dilaksanakannya. Tuhan telah mengampuni segala dosa kita melalui kematian AnakNya. Dalam Efesus 4:31-32 dikatakn supaya kita membuang sifat-sifat itu dari diri kita. Memang sulit sekali melakukannya, sakit sekali, atau mungkin dicemoohkan dipermalukan. Persis seperti yang dialami Yesus dikayu salib. Tak ada opsi lain bagi orang Kristen selain memaafkan. Meski pedih, namun lambat laun amarah kita akan sembuh.
Dalam kasus kedua, dimana kita marah melihat orang lain diperlakukan semena-mena, maka amarah itu perlu ada sebagai motivasi untuk memperjuangkan keadilan dan berbuat sesuatu. Amarah yang terkendali adalah hal-hal yang membuat kita terus berjuang bagi prinsip-prinsip yang mulia seperti melawan kejahatan, memperjuangkan kemerdekaan atau HAM, melawan penindas, korupsi, terorisme, narkoba dll. Inilah yang dilakukan Yesus dengan amarahNya. Mungkin Tuhan juga yang menaruh amarah itu didalam diri anda, sebagai passion atau semangat. Dalam hal itu, gunakanlah energi dalam amarah itu, namun selalu menjaga diri dekat pada Tuhan, karena nafsu amarah sangat mudah membelokkan cita-cita kita. Seperti dikatakan dalam Efesus 4:26 : Marahlah, tetapi jangan kau berdosa !.

Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amen.

Sunday, June 22, 2008

Good Grief


.
by Rabbi Kenneth L. Cohen

We often hear people speak of birth as a miracle. Seldom do we hear of death spoken of in the same way. But if there is something miraculous about life coming into existence, certainly the same holds true for death. To watch an active person reduced into inorganic nothingness before our very eyes is also a miracle, albeit a terrible one.
But if death is the other side of the coin which we call life, then grief is the other side of love. Bereavement is love not wanting to let go. Each tear we shed is a midwife which helps bring us into a new world. We mourn our loss. Then we face a new day. We turn a new page. We start a new chapter. We begin our own new life.
We are all terminal. From the moment we are born, we are destined to die. Our happiness is bound up in our ability to accept death as a fact of life. Acceptance of our mortal end is not something which comes easily. Such growth takes work. None of us have time to lose in accepting this reality.
How do we die? Each death, like each life, is unique. Some deaths are noble. Some are petty. Some are loving. Some are angry. Most are a combination of these things. But just as our lives are, to a great extent, at our command, so too are our deaths. Although we cannot determine precisely the day and hour of our passing or its ultimate cause, we can often orchestrate how we want our last days to be. We can live until we die.
Death is not entirely tragic. Our loved ones can bask in the afterglow of something that was once wonderful and be grateful that they once shared something beautiful with us.
As a rabbi, you might expect me to tell you that everything in the Bible is true. But I would be lying if I told you I believe that. We are taught "the Lord gives and the Lord takes away." But, in truth, not everything is taken from us. Memory is ours as long as we live.
Every person is like a snowflake. Every person, like every snowflake is unique. Both people and snowflakes have intricate patterns which have never been replicated and never will. Yet both people and snowflakes melt away before our eyes. Each is frail. Each is, in its own way, something beautiful. Each is so very delicate and vulnerable. Each is precious beyond words.
Literature is full of "famous last words" by celebrated individuals. (It is simply amazing how loquacious some of these people were considering the state they were in.) Nowadays, dues to improvements in palliative care, it is highly unlikely that we will be conscious enough to have that kind of lucidity. In all likelihood we will be tethered to all kinds of devices which are intended to ease our passing. While these improvements will make our deaths more comfortable, it will be at the expense of mental clarity. The time to express one's thoughts and wishes is now.
When my mother died I inherited her needle point tapestries. When I was a little boy I used to sit at her feet as she worked on them. Have you ever seen needle point from underneath? All I could see was chaos, strands of thread all over with no seeming purpose. As I grew, I was able to view her work from above. I came to appreciate the intricate patterns. What is more, I learned that the dark patterns were every bit as essential to the success of the work as the bright and gaily colored ones. Sometimes I think that life is like that. From our human perspective, we cannot see the whole picture. We have a limited view of reality. Nevertheless, we should not despair that there is an explanation, meaning and purpose.
The Welsh poet Dylan Thomas wrote a poem reflecting on the death of his father: "Do not go gentle into that good night/ Old age should burn and rage at close of day/ Rage, rage against the dying of the light." But in the end all rage and anger will pass. We will enter an realm of peace where nothing can hurt us, ever.
We are the people of the book. Each of us is an author writing the book of his or her life. Authors dream of their work becoming a classic, but few ever do. Whether or not the book of our lives becomes a classic depends on us, but not only on us. To an even greater extent it depends on those who remain behind. For what is a classic but a work to which others make reference after it is finished? It is not for us to finish the task.
Franz Rosenzweig concluded his classic, THE STAR OF REDEMPTION with these words "To walk humbly with thy God--the words are written over the gate, which leads out of the mysterious-miraculous light of the divine sanctuary in which no person can remain alive. Whither, then, do the wings of the gate open? Thou knowest it not? INTO LIFE."