Saturday, March 29, 2008

Profesi, profesionalisasi dan profesionalisme


Conscience is the guardian in the individual of the rules which the community has evolved for its own preservation.

(William Somerset Maugham)

Profesi

Istilah profesi adalah suatu hal yang berkaitan dengan bidang tertentu atau jenis pekerjaan (occupation) yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetapi belum tentu dikatakan memiliki profesi yang sesuai. Dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup untuk menyatakan suatu pekerjaan dapat disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, & penguasaan teknik intelektual yang merupakan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek. Maka orientasi utama profesi adalah untuk kepentingan masyarakat dengan menggunakan keahlian yang dimiliki. Akan tetapi tanpa disertai suatu kesadaran diri yang tinggi, profesi dapat dengan mudahnya disalahgunakan oleh seseorang seperti pada penyalahgunaan profesi seseorang dibidang komputer misalnya pada kasus kejahatan komputer yang berhasil mengcopy program komersial untuk diperjualbelikan lagi tanpa ijin dari hak pencipta atas program yang dikomersialkan itu. Sehingga atas dasar itu perlu diperoleh pemahaman atas etika profesi dengan memahami pula rumusannya dalam bentuk kode etik profesi tersebut.

Apa artinya menjadi anggota dari suatu profesi ?

Istilah profesi dan profesional berasal dari kata Latin ‘professio’, yang berarti suatu deklarasi publik dengan suatu kekuatan janji. Professi adalah kelompok yang memaklumkan secara umum bahwa anggotanya akan berlaku dalam cara tertentu dan bahwa professi maupun masyarakat boleh menindak mereka yang tidak memenuhi ikrar itu. Profesi membaktikan dirinya kepada masyarakat sebagai suatu peranti masyarakat (social benefit) dan masyarakat menyambut profesi tersebut, dengan harapan dapat memenuhi tujuan sosial yang penting. Pada mulanya profesi yang menjadi perintis adalah dokter, ahli hukum, pendidik dan ulama.

Ciri dari suatu profesi adalah :

1. kompeten dalam suatu jenis batang ilmu pengetahuan dan keterampilan.

2. memikul tugas dan tanggung jawab terhadap individu dan masyarakat yang dilayaninya.

3. berhak untuk melatih, menerima, mendisiplin dan memberhentikan anggota yang gagal memelihara kompetensinya atau menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Profesi dan Pekerjaan (Occupation).

Silang pendapat mengenai beda profesi dengan okupasi hingga saat ini masih terus berlangsung dengan argunentasi masing-masing. Namun, Hughes[1] berpendapat bahwa pertanyaan terpenting bukanlah apa suatu pekerjaan dapat dikatakan profesi, tetapi adalah sejauh mana pekerjaan itu menunjukkan ciri-ciri profesionalisasi. Tergantung kriteria apa yang dipakai untuk menetapkan suatu profesi, maka akan terdapat banyak variasi pada waktu dan tempat yang berbeda, sehingga dapat dikatakan bahwa profesi itu laksana gerakan sosial. ‘ Profesi merekrut jenis-jenis orang tertentu, mereka mengembangkan ideologi yang luhur dengan nilai-nilai yang melampaui tingkat individu, dan mereka sering ‘membentuk’ seorang anggota baru untuk masuk kedalam lingkungan mereka.’ Profesi sejati berorientasi pada pekerjaan yang terbaik, berarti semakin tinggi profesionalismenya. Kode etik dan ideologinya tidak terbatas pada lingkup kerjanya, namun memasuki

kehidupan pribadinya sehingga tercermin dalam status dan gaya hidup yang universal didalam segala aspek kehidupan. Seorang dokter atau rohaniawan misalnya senantiasa berada ‘on-call’ atau dalam ‘tugas’, dengan dedikasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu sepanjang usianya. Peran dalam pekerjaannya itu bersifat menyeluruh dengan membawa implikasi bahwa keanggotaan dalam kelompok okupasi itu menuntut perlunya pertemuan antar anggota untuk menetapkan gaya hidup yang dapat diterima dan komprehensif, antara lain kode etik profesi (professional code of conduct).

Dengan demikian akan lebih bermanfaat membahas tema sentral dari sesuatu pekerjaan ketimbang mempersoalkan bedanya profesi dengan okupasi. Semua pekerjaan mengembangkan kulturnya tersendiri, terminologi, aturan-aturan, cara belajar dan disposisi. Banyak pekerjaan yang membentuk asosiasi atau kelompok pekerja tempat mereka bernaung, yang mengesahkan suatu posisi tertentu dalam struktur pekerjaan dan selanjutnya mencerminkan hubungannya dengan struktur sosial yang lebih luas. Suatu studi di Inggris oleh Hickson & Thomas [2]menunjukkan bahwa semakin tua usia suatu okupasi, umumnya semakin tinggi tingkat pencapaiannya dalam faktor-faktor yang mencerminkan profesionalisasi. Apabila di Eropa Barat semakin jelas nampak kecenderungan untuk meningkatnya pengaruh profesionalisasi kedalam setiap pekerjaan, maka di negara-negara sosialis di Eropa Timur, istilah profesi dengan okupasi masih dicampur adukkan dan tidak memiliki batasan yang jelas. Kita di Indonesia juga masih berada pada posisi antara kedua kutub tersebut, kendati sudah ada tanda-tanda bahwa semakin mendesaknya arus profesionalisasi kedalam setiap jenis pekerjaan. Upaya legislasi profesi kesehatan yang saat ini sedang digarap gencar melalui UU Praktek Kedokteran, serta rancangan yang serupa bagi perawat serta profesi lain-lain menunjukkan bahwa Indonesia sungguh-sungguh hendak mengejar ketertinggalannya dari negara-negara lain.

Apa bedanya profesi dengan usaha (okupasi) ?

Perbedaan profesi dari usaha memang tidak terlalu jelas, karena seorang profesional dapat menjalankan usaha dan hidup dari bisnis itu. Namun, ada suatu perbedaan yang penting : seorang tenaga profesional memiliki tugas fidusiari terhadap mereka yang dilayaninya. Hal ini berarti bahwa profesional itu mempunyai suatu tugas dan beban khusus untuk menjamin bahwa keputusan dan tindakan yang diambilnya adalah untuk kesejahteraan pasien atau klien itu, meskipun akan merugikan profesional itu. Maka profesi memiliki kode etik yang tegas menyatakan kewajiban yang mutlak sebagai konsekwensi tugas fidusiari ini. Masalah-masalah etis sering muncul bila terjadi konflik antara kewajiban atau tanggung jawab fidusiari ini dengan tujuan-tujuan pribadinya.

Profesionalisasi.

Pakar-pakar sosiologi sejak lama masih memperdebatkan dua pendekatan yaitu pertama, pembedaan antara profesi dengan non-profesi, dan kedua, proses menuju profesionalisasi yang terjadi pada beberapa okupasi. Untuk membedakan profesi dengan non-profesi yang diperlukan adalah mengisolasi ciri-ciri atau variabel khusus yang dapat menjadi faktor pembeda. Walaupun sifatnya factorial, tidak dapat dihindarkan kemungkinan munculnya profesi-profesi baru dari satu profesi atau hilangnya suatu profesi. Sedangkan disisi lain, proses profesionalisasi didasarkan pada sejumlah asumsi tentang sifat-sifat suatu profesi, terutama yang menunjukkan adanya suatu proses pendewasaan atau perkembangan profesi itu.

Menurut Barber[3], ada empat ciri yang esensial dari perilaku professional, yakni : a). berdasarkan ilmu pengetahuan bermutu tinggi yang standard dan sistematik, b) orientasi utama kepada kepentingan publik ketimbang interes pribadi, c) adanya pengendalian diri yang sungguh-sungguh melalui kode etik yang dihayati dalam proses sosialisasi kerja dan melalui hubungan sukarela yang diorganisasi dan diselenggarakan oleh pakar dalam pekerjaan itu sendiri, dan d) adanya suatu sistem reward, moneter dan kehormatan, yang pada dasarnya merupakan simbol pencapaian prestasi.

Etik, etos dan kode etik

Menurut Paul F. Camenisch (1983) seperti dikutip K. Bartens[4], profesi adalah suatu moral community (masyarakat moral) yang memiliki cita-cita dan nilai-nilai bersama. Anggota-anggota profesi disatukan oleh latar belakang pendidikan yang sama dan bersama-sama mempunyai keahlian yang tidak dimiliki oleh orang lain, sehingga memperoleh kewenangan-kewenangan sendiri, dan oleh karena itu mempunyai tanggung jawab yang khusus. Untuk mengimbangi atau memelihara kepercayaan klien akan kewenangan yang begitu penting, ada kode etik profesi, yaitu suatu pedoman tertulis yang mengatur tentang norma-norma berperilaku. Kode Etik berbeda dengan etos, karena kode etik menimba kekuatannya dari ethos, namun sebaliknya kode etik menegakkan dan memperkokoh etos. Juga kode etik berbeda dengan etika medis medis yang merupakan suatu usaha yang sistematis untuk menerangkan etos secara ilmiah dan menguraikan pandangan serta norma-norma yang berlaku dalam seluruh bidang penyembuhan. Demikian pula, kode etik berbeda dengan peraturan perundang-undangan yang dibuat Pemerintah, meskipun dalam kode etik ditemukan hal-hal yang juga diatur oleh peraturan perundang-undangan. Tetapi ada hal-hal yang oleh peraturan hukum positif tersebut tidak dianggap sebagai pelanggaran, dan diatur secara seksama dalam kode etik.

Kode etik dapat dilihat sebagai produk etika terapan, karena merupakan penerapan dari pemikiran etis atas suatu wilayah tertentu, yaitu profesi. Akan tetapi kode etik tidak menggantikan pemikiran etis, dan suatu kode etik dapat direvisi atau dirubah.

Salah satu syarat agar dapat berfungsi dengan semestinya, kode etik harus dibuat oleh profesi itu sendiri, sehingga benar-benar dijiwai oleh cita-cita dan nilai-nilai yang hidup dalam kalangan profesi tersebut. Disamping itu pelaksanaan kode etik memerlukan pengawasan terus-menerus, dengan dibentuknya semacam lembaga seperti Majelis Kehormatan Etik.

PROFESSIONALISME

1. Profesionalisme adalah suatu paham yang mencitakan dilakukannya kegiatan-kegiatan kerja tertentu dalam masyarakat, berbekalkan keahlian yang tinggi dan berdasarkan rasa keterpanggilan -- serta ikrar (fateri/profiteri) untuk menerima panggilan tersebut -- untuk dengan semangat pengabdian selalu siap memberikan pertolongan kepada sesama yang tengah dirundung kesulitan ditengah gelapnya kehidupan (Wignjosoebroto, 1999). Dengan demikian seorang profesional jelas harus memiliki profesi tertentu yang diperoleh melalui sebuah proses pendidikan maupun pelatihan yang khusus, dan disamping itu pula ada unsur semangat pengabdian (panggilan profesi) didalam melaksanakan suatu kegiatan kerja. Hal ini perlu ditekankan benar untuk mem bedakannya dengan kerja biasa (occupation) yang semata bertujuan untuk mencari nafkah dan/ atau kekayaan materiil-duniawi. Lebih lanjut Wignjosoebroto [1999] menjabarkan profesionalisme dalam tiga watak kerja yang merupakan persyaratan dari setiap kegiatan pemberian "jasa profesi" (dan bukan okupasi) ialah

a. bahwa kerja seorang profesional itu beritikad untuk merealisasikan kebajikan demi tegaknya kehormatan profesi yang digeluti, dan oleh karenanya tidak terlalu mementingkan atau mengharapkan imbalan upah materiil;

b. bahwa kerja seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan yang panjang, ekslusif dan berat;

c.bahwa kerja seorang profesional -- diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral -- harus menundukkan diri pada sebuah mekanisme kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan disepakati bersama didalam sebuah organisasi profesi.

Ketiga watak kerja tersebut mencoba menempatkan kaum profesional (kelompok sosial berkeahlian) untuk tetap mempertahankan idealisme yang menyatakan bahwa keahlian profesi yang dikuasai bukanlah komoditas yang hendak diperjual-belikan sekedar untuk memperoleh nafkah, melainkan suatu kebajikan yang hendak diabdikan demi kesejahteraan umat manusia. Kalau didalam peng-amal-an profesi yang diberikan ternyata ada semacam imbalan (honorarium) yang diterimakan, maka hal itu semata hanya sekedar "tanda kehormatan" (honour) demi tegaknya kehormatan profesi, yang jelas akan berbeda nilainya dengan pemberian upah yang hanya pantas diterimakan bagi para pekerja upahan saja.

2. Siapakah atau kelompok sosial berkeahlian yang manakah yang bisa diklasifikasikan sebagai kaum profesional yang seharusnya memiliki kesadaran akan nilai-nilai kehormatan profesi dan statusnya yang sangat elitis itu? Apakah dalam hal ini profesi keinsinyuran bisa juga diklasifikasikan sebagai bagian dari kelompok ini? Jawaban terhadap kedua pertanyaan ini bisa mudah-sederhana, tetapi juga bisa sulit untuk dijawab. Terlebih-lebih bila dikaitkan dengan berbagai macam persoalan, praktek nyata, maupun penyimpangan yang banyak kita jumpai didalam aplikasi pengamalan profesi di lapangan yang jauh dari idealisme pengabdian dan tegak nya kehormatan diri (profesi). Pada awal pertumbuhan "paham" profesionalisme, para dokter dan guru -- khususnya mereka yang banyak bergelut dalam ruang lingkup kegiatan yang lazim dikerjakan oleh kaum padri maupun juru dakhwah agama -- dengan jelas serta tanpa ragu memproklamirkan diri masuk kedalam golongan kaum profesional. Kaum profesional (dokter, guru dan kemudian diikuti dengan banyak profesi lainnya) terus berupaya menjejaskan nilai-nilai kebajikan yang mereka junjung tinggi dan direalisasikan melalui keahlian serta kepakaran yang dikembangkan dengan berdasarkan wawasan keunggulan. Sementara itu pula, kaum profesional secara sadar mencoba menghimpun dirinya dalam sebuah organisasi profesi (yang cenderung dirancang secara eksklusif) yang memiliki visi dan misi untuk menjaga tegaknya kehormatan profesi, mengontrol praktek-praktek pengamalan dan pengembangan kualitas keahlian/ kepakaran, serta menjaga dipatuhinya kode etik profesi yang telah disepakati bersama.



[1] E.C.Hughes,’Professions’, Daedalus (1963)

[2] D.J.Hickson and M.W.Thomas,’Professionalization in Britain: a Preliminary Measurement’, Sociology, 3,1(January 19690, 48

[3] B.Barber,’ Some Problems in the Sociology of Professions,’ Daedalus, 92,4 (1963)

[4] K.Bertens, Etika, Jakarta: Gramedia 1993

Friday, March 28, 2008

Gaya hidup remaja sehat !

Gaya hidup (menurut WHO)

Masalah kesehatan yang berhubungan dengan perubahan gaya hidup telah diasosiasikan dengan perubahan kebiasaan makan, contohnya: remaja dan makanan cepat saji, dan merokok, terutama dengan meningkatnya jumlah perokok usia muda. Proporsi dari jumlah penduduk yang berusia 15 tahun keatas yang merokok secara regular diperkirakan sebanyak 22,9% di tahun 1995 dan meningkat menjadi 27,7% di tahun 2001. Penyalahgunaan obat dan bahan berbahaya, gaya hidup yang sedentari/ kurang aktif, dan kekerasan juga menjadi masalah kesehatan. Hambatan yang utama adalah kurangnya bantuan masyarakat dan komitmen nasional, terutama mengenai merokok.


Kehidupan Remaja Dalam Keluarga

Gambaran tentang hubungan remaja dengan anggota keluarganya diungkap dengan melihat penilaian remaja terhadap kegiatan yang dilakukan bersama keluarganya, ketersediaan waktu orangtua bersama anak, orang yang paling sering diajak memecahkan masalah dan kegiatan lingkungan yang diikuti.

Untuk mengetahui pelaksanaan fungsi sosial keluarga ini, berikut disajikan sejumlah kegiatan yang sering diikuti secara bersama-sama oleh anggota keluarga menurut remaja. Sebanyak 60 remaja merasa tidak ada kegiatan keluarga yang dapat dikategorikan sebagai kegiatan yang sering diikuti anggota keluarga. Selebihnya (40%) menyatakan sejumlah kegiatan yang sering diikuti walaupun dalam frekuensi yang sangat rendah seperti makan dan ibadah, kunjungan keluarga dan nonton TV. Kemudian menurut intensitas pertemuan dengan keluarga, 70% remaja merasa bahwa intensitas pertemuan keluarga masih belum maksimal, yang meliputi kategori jarang sebanyak 33,33 % dan kategori sangat jarang 36,67%. Besarnya angka ini mencerminkan bahwa menurut remaja sebagian besar keluarga masih kurang memperhatikan aspek kebutuhan sosial keluarga sesuai dengan tuntutan kebutuhan.

Minimnya kegiatan bersama anggota keluarga ini tidak terlepas ketersediaan waktu orangtua untuk mengadakan kegiatan tersebut. Sesungguhnya di mata remaja 63,33% orangtua mempunyai waktu yang memadai untuk mengadakan kegiatan bersama dan 36,6% kurang tersedia waktunya. Bila dibandingkan dengan data sebelumnya tentang intensitas pertemuan keluarga, ternyata hanya 30% yang sering mengadakan pertemuan. Ini berarti ada 33,33% keluarga yang ketersediaan waktunya memadai namun tidak memanfaatkannya untuk mengadakan pertemuan keluarga. Dalam kondisi yang demikian anak dapat mengambil kesimpulan (persepsi) tersendiri yang bersifat negatif terhadap keluarganya.

Dari segi pemanfaatan waktu untuk mengadakan pertemuan keluarga sebagaimana dimaksudkan di atas dapat melibatkan dua pihak. Pihak pertama adalah pihak orangtua sebagai pemimpin keluarga, dan pihak kedua adalah anggota keluarga lainnya termasuk anak (remaja). Di satu sisi orangtua sebagai kepala keluarga diharapkan mengambil inisiatif lebih dahulu, dan di sisi lain inisiatif mungkin datang dari anggota keluarga lainnya termasuk anak (remaja), namun keputusan tetap ditentukan oleh orangtua. Bahwa orangtua yang selalu menanggapi anak ketika mengutarakan pendapatnya hanya 26,67 %, sementara sebagian besar lagi (73,33 %) tidak maksimal dalam menanggapi. Sikap orangtua yang kurang dalam menanggapi anaknya ini dapat berakibat negatif terhadap anak. Misalnya anak menjadi malas dalam mengutarakan pendapatnya atau mengambil inisiatif tertentu terhadap satu masalah.

Persepsi Remaja terhadap Pola Asuh

Bahwa pola asuh yang dominan menurut remaja adalah pola asuh otoriter (83,33%), disusul dengan pola asuh permisif dan demokratis masing-masing 33,33%. Ini berarti bahwa menurut remaja terdapat 90 % keluarga yang kurang demokratis dalam menerapkan pola asuh terhadap anak-anaknya. Hal ini akan menciptakan iklim yang kurang kondusif bagi perkembangan anak.

Sejalan dengan pola asuh tersebut dapat dicermati lebih jauh dasar pemikiran dan tindakan orangtua dalam mengasuh anaknya. Pola asuh yang demokratis akan bertindak lebih rasional, dengan angka persentase yang kebetulan sama yaitu 33,33%. Demikian pula sebaliknya dengan pola asuh yang tidak demokratis (permisif dan otoriter) yang mempunyai persentase yang relatif sama dengan kategori tindakan yang tidak rasional (emosional dan irasional), yaitu 90%. Pola asuh yang dikembangkan dalam satu keluarga selanjutnya dapat mengantarkan anak pada satu gambaran tertentu tentang tingkat keharmonisan keluarga.

Kehidupan Remaja di Luar Rumah

Deskripsi tentang gaya hidup remaja di perkotaan digambarkan dengan melihat beberapa aspek kehidupan atau kegiatan remaja. Aspek tersebut adalah lokasi atau tempat yang paling sering dikunjungi, tujuan mangkal pada tempat yang dikunjungi, alasan untuk mendatangi tempat tersebut, keuntungan yang diperoleh mangkal di tempat tersebut, rata-rata lama waktu yang dihabiskan saat berkunjung, dan waktu yang paling sering digunakan untuk berkunjung.

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bahwa lokasi yang banyak dikunjungi remaja adalah pusat kegiatan ekonomi maupun sosial yang lebih bernuansa hiburan. Adapun tujuan mereka mengunjungi tempat-tempat tersebut adalah (1) mencari uang, (2) mencari hiburan dan (3) cari teman baru. Dari ketiga jenis tujuan tersebut, mencari hiburan menjadi tujuan utama remaja. Sedangkan alasan mereka adalah 83,33% karena orangtua otoriter, 50% karena tidak betah di rumah, 16,67% karena tidak ada lokasi main, dan 16,67% membantu ekonomi keluarga. Alasan tersebut sejalan dengan keuntungan yang diperoleh remaja pada saat mangkal, yaitu dapat hiburan dan stres hilang (100%), dapat teman baru (53,33%) dan ketemu teman lama (13,33%). Alasan dan keuntungan tersebut juga sejalan dengan tujuan remaja mangkal, yaitu mencari hiburan (100%), dan cari teman baru (53,33%).

Faktor lain yang terkait dengan perilaku mangkal remaja ini adalah waktu yang sering digunakan remaja untuk mangkal. Sebanyak 60% pada siang hari, 23% sore dan 17% malam hari. Kemudian dilihat dari lamanya mangkal, 56,67% antara 1-3 jam, 26,67% antara 4-6 jam, dan16,67 % lebih dari 6 jam.

Data ini menunjukkan bahwa 83,33% remaja menghabiskan waktunya pada siang dan sore hari di luar rumah untuk mangkal. Perlu diketahui bahwa data tersebut hanya untuk satu kegiatan remaja yaitu mangkal. Artinya masih banyak kegiatan lainnya di luar rumah yang belum tercatat. Ini mengindikasikan bahwa intensitas pertemuan dengan anggota keluarga lainnya terutama dengan orangtua sangat terbatas. Terbatasnya pertemuan dengan anggota keluarga ini akan mempengaruhi kualitas hubungan sosial dalam keluarga. Bahkan lebih parah lagi 16,67 % remaja mangkal pada malam hari, dengan lama mangkal 16,67% lebih dari 6 jam. Meskipun persentasenya relatif kecil, namun alokasi waktu tersebut sangat rawan secara sosial dengan berbagai tindakan tuna sosial.

Persepsi terhadap Kenakalan



Berbeda dengan pendapat orang tua, bahwa berbohong, merokok, mejeng di mall, berkelahi/tawuran, dan minum minuman keras bukan termasuk tingkah laku nakal. Sedangkan jenis tindakan yang menurut remaja termasuk nakal, yaitu menggunakan narkoba, seks bebas, mencuri, memeras/ malak, dan merampok. Namun demikian sikap yang tegas tersebut ternyata tidak menjamin mereka tidak melakukan tindakan dimaksud. Misalnya demi persahabatan, ataupun pelarian sesaat.

Sedangkan faktor yang menyebabkan remaja bertingkah laku nakal, yaitu (1) teman sebaya, (2) lingkungan, (3) pola asuh otoriter, dan (4) pengaruh film dan TV. Dari faktor-faktor tersebut persentase tertinggi adalah pengaruh dari lingkungan (86,67 %) dan pola asuh otoriter orang tua (70,00%).

Keluarga sehat dan bahagia menjadi dambaan setiap orang tetapi bagaimana mendapatkannya? Simak tips smart berikut ini untuk dapat menjamin anda memiliki keluarga sehat dan bahagia!

Praktekan cinta yang tulus
Anda mungkin memiliki anggota keluarga yang tidak selalu sesuai dengan keinginan anda, tetapi ini bukan berarti anda harus mengasingkan mereka. Cintai mereka atas segala keanehannya dan rangkul perbedaan mereka. Ini dilakukan terutama pada anak-anak yang mulai mengembangkan penghargaan diri dari usia remaja.

Selalu berkomunikasi dengan orang tua
Anda mungkin tidak tinggal bersama mereka lagi tetapi bukan berarti tidak harus bertemu mereka secara teratur. Jaga tali keluarga dengan mengunjungi orang tua sedikitnya sekali dalam seminggu, dan rencanakan menghabiskan waktu bersama-sama. Cara ini akan membuat anak-anak anda belajar betapa pentingnya keluarga.

Membuat kesehatan suatu prioritas
Nutrisi yang baik dan olahraga teratur seharusnya menjadi bagian penting dari kehidupan keluarga. Habiskan waktu berkualitas bersama keluarga sendiri.
Waktu seperti ini penting karena akan memberikan anda kesempatan berkomunikasi sebenarnya dengan mereka.

Gantikan junk food dengan makanan ringan yang sehat
Gantikan minuman soda, permen, jenis makanan lain berkadar gula tinggi atau makan ringan bernutris rendah dengan jus buah-buahan segar, buah dan kacang-kacangan atau makanan tinggi serat untuk menanamkan kebiasan makan yang baik pada anak-anak.

Jangan gunakan televisi atau komputer sebagai babysitter
Yakinlah waktu anak-anak ditemani dengan aktivitas belajar yang kontruktif dibanding yang ada dalam televisi. Anak-anak dapat mudah terpengaruh dengan apa yang mereka lihat dan dengar di televisi. Jika mereka ingin menonton televisi, yakin apa yang mereka lihat adalah program bermanfaat. Juga hindarkan kebiasaan berjam-jam didepan komputer, asyik menjelajah dunia maya sehingga jarang kontak fisik dengan keluarga hendaknya dihindarkan dengan mengatur jam yang wajar untuk mengembangkan bakat komputer si anak.

Jauhkan rumah dari kekerasan
Berteriak, membentak, dan menampar hanya mengajarkan anak-anak menyampaikan kekerasan pada orang lain. Cobalah menemukan cara kreatif untuk mendisiplinkan mereka dengan tidak melibatkan kekerasan.

Mengecek kesehatan
Yakin untuk menepati janji bertemu dokter gigi atau gynekolog terutama imunisasi bagi anak-anak. Jika anda tinggal dengan orang tua yang telah ujur, awasi kesehatan mereka dengan membawa mereka ke dokter untuk mendapatkan check-up yang teratur.

Sebetulnya banyak sekali kebutuhan anak-anak untuk bisa tumbuh sehat.

Dari segi fisik anak-anak sejak dalam kandungan membutuhkan:

- nutrisi yang baik dan sesuai kebutuhan

- istirahat dan tidur yang cukup

- olahraga sesuai takaran

- imunisasi sesuai kebutuhan

- lingkungan tinggal yang sehat

Boleh jadi semua orangtua yang membeli tabloid gaya hidup bisa memenuhi kebutuhan fisik seperti di atas. Meski demikian, dengan terpenuhinya kebutuhan fisik tersebut belum berarti anak-anak akan tumbuh sehat jika kebutuhan untuk memiliki mental yang sehat tidak terpenuhi.

Kebutuhan mental emosional itu antara lain:

- cinta tanpa syarat dari ayah, ibu, dan keluarga

- memiliki kepercayaan diri dan rasa harga diri (self esteem) yang tinggi

- punya kesempatan bermain dengan anak-anak lain

- mendapat dorongan dan dukungan dari guru dan orang-orang yang mengasuhnya

- tinggal di lingkungan yang aman dan terlindung

- adanya pedoman dan disiplin yang jelas

Thursday, March 27, 2008

Menua dengan baik

Tuhan Allah sungguh pemurah pada kita. Allah memberikan kehidupan yang berkelimpahan bagi kita dalam kemurahanNya. Patut kita mengucap syukur setiap saat dan tetap memelihara iman kita melalui firman Tuhan setiap hari. Didalam Mazmur 90:10 disebut : ‘Masa hidup kami 70 tahun, dan jika kami kuat, 80 tahun.’ Namun tidak sekedar diberikan panjang umur, Tuhan juga memberikan kita kesempatan untuk mengisi usia lanjut itu dengan kehidupan yang cukup dan terhormat. Amsal 3:16 mengatakan ‘Umur panjang ada ditangan kananNya, ditangan kiriNya kekayaan dan kehormatan.’ Dan apabila kita ‘memelihara perintahNya’ maka ‘panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkanNya kepadamu. ’ (Amsal 3:1b-2).

Hidup sering diibaratkan sebagai perjalanan atau pertandingan dimana segala sesuatu akan berakhir. Didalam 1 Petrus 1 : 24 dikatakan :’ Semua yang hidup adalah seperti rumput, rumput menjadi kering dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.’

Segala sesuatu ada awal dan akhirnya. Didalam 2 Timotius 4:7 dikatakan : ‘Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.’ Oleh karena itu didalam menem-puh perjalanan atau mengakhiri pertandingan, kita hendaknya mengisinya dengan berhenti pada pos-pos perantara, berupa peristiwa-peristiwa yang membahagiakan misalnya menikahkan anak , menyaksikan cucu diwisuda, bepergian mengunjungi keluarga dan kerabat dsb. Janganlah kiranya pos-pos perhentian itu berupa sakit stroke, diabetes, asam urat, hipertensi dll.

Hidup lanjut usia bukan sekedar panjang umur, tetapi bagaimana kita mengisinya. Dan kalau kita memelihara iman kita dalam Tuhan kita Yesus Kristus maka kesehatan dan kesembuhanpun akan menjadi milik kita. Terpujilah Kristus.

Mengapa seseorang takut menjadi tua? Apakah usia lanjut itu senantiasa identik dengan kesepian, kelemahan dan pen-deritaan?

Penderitaan yang terjadi pada orang lanjut usia digambarkan dengan jelas oleh Pemazmur :

'Kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku, meranalah jiwa dan tubuhku. Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah; kekuatanku merosot karena sengsaraku, dan tulang-tulangku menjadi lemah. Dihadapan semua lawan-ku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kekejutan bagi kenalan-kenalanku; mereka yang melihat aku dijalan lari dari padaku. Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati; telah menjadi seperti barang yang pecah.(Mazmur 31:10-13).


Sering sekali seorang lansia mengalami depresi kejiwaan karena merasa dikucilkan, tidak diikutsertakan dalam peristiwa atau kegiatan apa-apa lagi. Dia menjadi murung dan mudah tersinggung, sering mengalami kelesuan dalam berpikir dan bertindak apapun. Perhatikan kata-kata kunci dalam bacaan Mazmur tadi; 'tercela', 'ketakutan bagi tetangga', 'kejutan bagi kenalan', 'lari dari padaku', dan 'hilang dari ingatan'.

Ada sebuah film komedi yang diputar belum lama ini dengan judul 'Duplex', dibintangi oleh Ben Stiller dan Drew Barrymore yang berperan sebagai pasangan muda yang membeli sebuah rumah duplex (2 lantai) dikawasan strategis di New York. Sayangnya dilantai dua rumah duplex itu, tinggal seorang nenek yang semula kelihatannya lemah, tak berdaya, mengundang rasa iba, sehingga pasangan ini dengan rasa tenang memutuskan untuk membeli rumah itu. Tak lama terbongkarlah 'tingkah laku' nenek tadi yang mulai merepotkan, menjengkelkan bahkan menjadi 'ketakutan bagi tetangga' seperti yang dikatakan diayat Mazmur tadi.

Apakah yang paling menyedihkan bagi seorang lansia yang hidup sendiri?

A lonely life at the end of the road. Its very sad to realize that one has to experience such sad moment when you are left by yourself, nowhere to go, and no one you can really connect with. Thats what old age signifies to some people especially when you wither away with relationship from God. But for those who stays in close contact and seeking guidance from God day after day, old age is an opportunity to know Him better, to accept redemption and hoping for God's grace in a new life with God.

Demikian jawab seorang pastor kenalan kami, Foster Shannon ketika kami tanyakan hal yang sama padanya.

Disamping penderitaan psikis dan depresi kejiwaan, maka pengaruh usia lanjut terhadap kemampuan fisik jelas menambah depresi tersebut. Dalam Mazmur tersebut dika-takan 'kekuatanku merosot', dan 'tulang-tulangku menjadi lemah.' Didalam bukunya yang laris manis seperti buku-buku seri Selamat lainnya, 'Selamat Berkembang., Dr. Andar Ismail menyebutkan gejala-gejala depresi kejiwaan ditambah gejala kemerosotan fisik yang lebih luas. Orang tua biasanya juga tak luput dari berbagai penyakit, biasanya gabungan dari beberapa penyakit degeneratif. Or-gan-organ juga merosot fungsinya seperti penglihatan kabur, pendengaran menurun, pengecapan hambar, reaksi lambat, gangguan keseimbangan, susah tidur atau tidur melulu, nafsu makan tidak ada. Karena daya ingat juga jauh merosot, maka sering lupa makan dan minum, disorientasi tempat dan waktu. Ada orang tua yang tiap beberapa menit, selalu bertanya disekitarnya, 'Hari apa sekarang,' bahkan ,'Siapa kamu atau dari mana kamu datang,' pada sanak keluarganya sendiri. Bahkan sering kita dengar kejadian ada orangtua yang berjalan sendiri meninggalkan rumah dan tidak tahu cara pulang hingga berurusan dengan polisi atau mendapat kecelakaan. Depresi jiwa yang ditambah dengan kemerosotan fungsi tubuh itu dimanifestasikan dalam banyak bentuk, a.l. kehilangan selera, semangat dan minat apapun, cepat lelah, lupa, tersinggung atau merasa bersalah, merasa tak berharga dsb. Ia menjadi pessimis, merasa tak ada gunanya hidup, persis seperti ayat ' seperti barang yang pecah' pada ayat Mazmur tadi. Rasanya tak ada lagi gairah untuk hidup. Inilah penyebab utama seorang lansia meninggal, terlebih apabila sehabis kematian pasangan hidupnya, dia melepaskan harapan untuk hidup lagi.

Tetapi menjadi seorang yang lanjut usia tidak mesti demikian apabila kita dapat menyikapi dan menghadapinya dengan persiapan. Pertama, apa artinya tua bagi anda?

Semua orang pasti mencapai usia lanjut, apabila maut tidak lebih dulu menjemput. Tetapi seseorang tidak harus menjadi tua da-lam arti mengalami gejala-gejala penuaan seperti yang disebut terdahulu. Saya mempunyai dosen, pembimbing yang dapat dianggap juga sebagai mentor, sewaktu studi di Amerika Serikat. Namanya Profesor Dr. Abrahamson, sering kita panggil Dr.A. saja, usianya waktu itu 76 tahun tetapi masih aktif mengajar, bahkan menjadi promotor disertasi PhD kami. Waktu baru mulai kenal dengan keluarga Dr.A. ini pernah sekali saya berta-nya ,'How old are you, Dr. A'? Beliau menjawab spontan 'We are not old, but we are seniors,' sambil bercanda. Lalu beliau menambahkan 'You are as old as you feel.', maksudnya umur boleh lanjut, tetapi kita tidak boleh merasa tua. Seseorang bisa merasa tua pada usia berapapun. Ada orang yang baru berumur 40 tetapi sudah merasa, dan biasanya kelihatan lebih tua dari mestinya. Tetapi ada juga yang sudah 80 tahun, namun jiwanya tetap muda, karena dia merasa masih berguna. Tentu ada sesuatu dalam cara hidupnya yang membuatnya tetap muda dan bergairah.


Hidup bersama dengan orang yang dicintai dapat membuat kita ingin terus muda. Ingatkah anda lagu 'You make me feel so young' nya Frank Sinatra, dimana pasangannya selalu membuatnya merasa muda. Benjamin Franklin pernah berkata :'Orang-orang yang bisa mencintai secara mendalam, tidak akan pernah tua; mungkin mereka akan meninggal dalam usia tua, tetapi jiwa mereka tetap muda.' Namun ada juga keraguan akan kehilangan cinta atau perhatian seperti didalam lagu 'When I'm sixty four' nya the Beatles, dimana ditanyakan

'Will you still feed me, will you still need me , when I'm sixty four ? '

Frank Sinatra juga didalam albumnya yang meraih Grammy tahun 1964 berjudul 'It was a very good year.' menyanyikan tentang masa-masa kehidupannya. Masa tua dia ibaratkan sebagai anggur yang sudah matang dan nikmat diminum (vintage). Didalam lagu itu disebut

'But now the days are short, I'm in the autumn of the year. And now I think of my life as vintage wine, from fine older kegs, from the brim to the dregs, it pours sweet and clear. It was a very good year.'


Pemazmur lain lagi, dia mengibaratkan orang dimasa tuanya sebagai buah kurma, 'Pada masa tuapun mereka masih berbuah...untuk memberitakan bahwa Tuhan itu benar (Maz-mur 92:15-16). Menjadi tua adalah sebuah kesempatan untuk menyaksikan kebaikan Tuhan, lalu menceritakan kebaikan itu kepada generasi penerus.

Saya belum terlalu sering sadar bahwa umur saya sudah hampir 59 thn. Kebiasaan saya berolahraga 40 menit setiap pagi membuat perasaan saya segar setiap hari. Saya juga selalu menyeimbangkan pekerjaan dengan rekreasi. Salah satu kegemaran saya adalah nonton film, dan tak jarang saya pergi kebioskop nonton sendirian, kalau isteri kebetulan tak bisa. Baru-baru ini sesudah mengikuti Public Health Conference BIMST di Singapore, saya ada kesempatan pergi ke EW Jubilee di Ang Mo Kio untuk nonton 'The House of Flying Daggers'. Waktu beli ticketnya, nona penjualnya bertanya 'Are you a Senior, sir?' Saya nggak nyangka bakal dapat pertanyaan ini, lalu saya tanya iseng .'How much for a senior.' 'Three fifty,'katanya mengatakan 3.5 dolar, sedangkan harga normal 7.5 dolar. Wah, saya pikir, enak sekali kalau punya kartu bukti senior citizen. Saya tunjukkan KTP Jakarta saya, tetapi ternyata tidak bisa, yah terpaksalah beli normal price. Jadi, ternyata, menjadi lansia itu banyak juga keuntungannya.....Disitulah saya pertama kalinya benar-benar sadar bahwa rupanya saya sudah menua. Tetapi yang pasti, saya tetap berjiwa muda. Masih banyak hal-hal menarik dalam hidup ini yang belum saya lakukan dan alami. Masih banyak tempat-tempat yang belum sempat saya kunjungi dan saya yakin masih banyak pekerjaan Tuhan yang dapat saya lakukan selagi badan masih kuat dan mampu mengerjakannya.

Proses penuaan alami

Sejak kita lahir, bahkan sebelumnya, proses penuaan sudah dimulai. Hari ini kita lebih tua dari keadaan kita kemarin. Hari ini kita lebih muda dari keadaan kita besok. Untuk hidup baik kita harus menua dengan baik. Untuk menua dengan baik kita harus hidup dengan baik, demikian ujar Harvey H. Potthoff, penulis buku God and the Celebration of Life. Untuk memperoleh gambaran akan proses penuaan yang ideal, perlu direnungkan beberapa pertanyaan mendasar. Apakah yang dimaksudkan dengan penuaan yang baik ? Apabila pergumulan hidup, kehilangan sesuatu yang berharga dan kemunduran atau kemerosotan fungsi merupakan bagian yang tak terelakkan dari pengalaman manusia, bagaimana kita dapat menyikapi dan menerima hal-hal tersebut kedalam pola kehidupan kita? Bagaimana kita dapat bersikap realistis tentang fakta-fakta mengenai kematian namun tetap tegar sebagai seorang yang penuh pengharapan ? Mungkinkah seseorang bersikap realistis terhadap fakta-fakta mengenai menuaan, kemerosotan dan kematian, namun terus hidup dengan suatu tanggungjawab atas keberadaan kita serta peran kita didalam kehidupan ini ? Apakah intisari ajaran Kristen dalam mencari makna penuaan itu?

Tuhan hadir dalam pengalaman hidup kita bukan hanya saat bergembira, bertumbuh dan berhasil, namun juga dalam pengalaman yang menyangkut kehilangan, pergumulan penderitaan dan kematian. Setiap orang, yang muda maupun yang tua, saat ini sedang menjalani proses penuaan. Cepat atau lambat pengalaman dan pertanyaan-pertanyaan ini akan membawa dampak dalam kehidupan kita, bahkan mungkin juga telah terjadi. Dengan mengadakan refleksi terhadap hal-hal tersebut, kita akan dapat melihat bagaimana iman Kristiani kita dapat memberikan pencerahan terhadap prospek penuaan yang ideal.


Wednesday, March 26, 2008

Kata-kata yang memulihkan

Memuji Tuhan adalah sumber kesembuhan. Pernahkah anda memikirkan untuk memuji Tuhan dikala anda sakit ? Jarang sekali ada orang yang kesakitan, dapat memikirkan untuk bernyanyi atau bersaksi untuk memuji Tuhan. Tetapi, kita sering mendengar bahwa ada orang yang berusia lanjut dan jarang sakit karena kesukaannya adalah lagu-lagu pujian bagi Tuhan. Contohnya ibu saya sendiri alm., semasa hidupnya hingga pada usianya yang sudah lebih 85 tahun masih bersemangat memimpin dan melatih paduan suara di gerejanya di Pematangsiantar. Bukan hanya 1 koor, tetapi 2, bahkan pernah hingga 3 paduan suara wanita yang dipimpinnya. Dan bukan sekedar koor, namun PS yang berprestasi dengan menjadi juara dalam festival PS setempat. Tuhan Maha Besar, beliau menikmati dan memanfaatkan karunia itu dan mempersembahkan sebagian besar hidupnya memuliakan Tuhan melalui pujian. Kini beliau telah bersama Tuhan, dipanggil kerumah Bapa pada usia 89 tahun.

Saya sendiri, yang rupanya diberkati untuk mewarisi bakat beliau dan memimpin satu PS di gereja kami, PS Sela GPIB Bukit Moria, sering merasakan bahwa sekalipun kadang-kadang terasa agak lemah atau sakit, kalau tiba waktunya untuk menyanyi atau melatih koor memuji Tuhan, maka perasaan itu hilang, bahkan menjadi kuat dan bersemangat kembali. Seperti dikatakan oleh Daud : 'Pujilah Tuhan, hai jiwaku. Pujilah namaNya yang kudus, hai segenap batinku. Pujilah Tuhan, wahai jiwaku, dan janganlah lupa akan segala kebaikanNya. Dia yang telah mengampuni segala kesalahan-mu, yang menyembuhkan segala penyakitmu. (Mazmur 103:1-3).

Bapa disurga, bukalah mata saya untuk dapat mengetahui, baik jasmani maupun rohani, akan apa yang dapat saya lakukan untuk mencegah dengan mengalahkan penyakitku ini. Berikanlah saya kemampuan dan hikmat untuk dapat menerapkan yang telah saya pelajari. Berikanlah kepada saya damai sejahteraMu,dan jauhkanlah saya dari ketakutan, kegelisahan, dan kekhawatiran karena pada kehendakMu sajalah saya percaya. Didalam nama Yesus dari Nazareth, Tuhan Penyembuh saya. Amin.

Aku percaya bahwa Firman Tuhan adalah sumber kehidupan, dan rahasia dari kehidupan itu, termasuk kesehatan dan kesembuhan itu ada didalamnya. Bila kita menekuni akan firmanNya dan mencari petunjuk didalamNya maka Tuhan akan memberi kita pengampunan dan kesembuhan secara langsung dan pasti. Langsung berarti bahwa Tuhan sendiri yang menunjukkan kuasaNya, tanpa peran-taraan manusia. Pasti, berarti kita telah disembuhkan, dan iman kita yang menyatakan percaya disusul dengan tindakan kita sungguh-sungguh menunjukkan kesembuhan total. Kiranya kuasa Tuhan akan bekerja dengan ajaib, menumbuhkan iman percaya bagi kita didalam mencari firmanNya yang me-nyembuhkan segala penyakit kita. Tuhan Maha Besar.

Iman adalah keputusan untuk percaya kepada kepada Firman Allah lebih dari segala sesuatu, termasuk penyakitku ini. Ini bukan berarti bahwa saya berpura-pura tidak sakit, melainkan memilih untuk percaya akan kuasa Allah yang dapat menyembuhkan.

Alkitab berkata 'Tidak tahukah kamu bahwa Roh Allah diam didalam kamu? Jikapun ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus, dan bait Allah itu ialah kamu (1 Kor. 3: 16-17).

Saudaraku yang kekasih, aku berdoa semoga engkau baik-baik serta sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja (3 Yoh.2).

Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara Tuhan Allahmu, dan melakukan apa yang benar dimataNya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintahNya, dan tetap mengikuti segala ketetapanNya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Akulah Tuhan yang menyembuhkan engkau. (Keluaran 15:26).

Tetapi aku ini tertindas dan kesakitan ; keselamatan dari padaMu, ya Allah, kiranya melindungi aku. Aku akan memuji-muji Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur. (Mazmur 69:31-32).

Allah mengerti segala penyakitku, dan akan melepaskan serta menyembuhkanku. Karena Tuhan berjanji : 'Tuhan membantu dia diranjangnya waktu sakit; ditempat tidurnya Kau pulihkannya sama sekali dari penyakitnya.(Mazmur 41:4).

Akan tetapi tidak selalu orang percaya pada pengampunan dan kuasa penyembuhan dari Tuhan, karena iman serta keraguan hatinya.

Kadang-kadang kita itu tidak percaya kepada kemurahan Tuhan dan menuduhNya berbuat tidak adil kepada kita seperti pada kitab Yeremia 15 : 18a: 'Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? .

Tetapi dibagian lain, yaitu pada Yer 17:14 di-katakan: ' Sembuhkanlah aku, ya Tuhan, maka aku akan sembuh ; selamatkanlah aku, maka aku akan selamat, sebab Engkaulah kepujianku.' Disini kembali kita diingatkan akan hubungan antara kesembuhan dan kepujian. Ternyata sangatlah erat keterkaitannya.

Tennyson pernah berkata : 'Tuhan memberikan cinta pada kita. Dan Dia meminjamkan sesuatu pada kita untuk dicintai.' Jikalau Tuhan hendak memberi, maka dengan mudah diberiNya, dan kalau Tuhan mau mengambil, maka dapat diambilnya. Ini berlaku buat kekasih hati kita, harta kita maupun kesehatan kita. Tetapi demikian pula dengan musuh kita, dosa kita, bahkan tentu saja penyakit kita, dengan mudah mungkin diambilNya dari kita.

Daud, Raja Israel, yang suka memuji Tuhan melalui nyanyian pujian, memiliki pengertian mendalam dari Tuhan tentang kesembuhan. Dalam Mazmur 103 ia memaparkan perkembangan yang dapat terjadi dari dalam kegelapan dan keputusasaan akibat penyakit menuju kesembuhan. Berikut inilah apa yang dika-takannya : 'Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah namaNya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Dan jangan lupakan segala kebaikanNya. Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu. Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat. Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti burung rajawali.'

Pada bagian lainnya dia berkata ' Tujukanlah pandanganmu kepadanya, maka mukamu akan berseri-seri..'. Berarti memuji Tuhan akan mengalihkan pandangan kita dari dalam diri kita sendiri, dari kesusahan kita, dari penyakit kita, dari darah tinggi, hepatitis, sakit jantung kita, dari kelemahan apapun yang saat ini sedang kita derita. Dalam memuji Tuhan, perhatian kita terpusat kepada kebaikanNya, kepada apa yang telah dilakukanNya. Ini dapat mengalirkan sukacita kepada pikiran, suasana emosi dan perasaan kita. Sukacita dapat memperkuat sistim kekebalan kita. Memuji Tuhan adalah baik bagi kesehatan kita.

Seorang perajurit Perang Saudara yang tak dikenal menulis doa ini pada secarik kertas yang ditemukan pada tempat pertempuran yang berbunyi sbb :

Answered Prayer

I asked God for strength, that I might achieve.

I was made weak, that I may learn humbly to obey.

I asked for health, that I might do greater things,

I was given infirmity, that I might do better things.

I asked for riches, that I might be happy.

I was given poverty, that I might be wise...

I asked for power, that I might have the praise of men,

I was given weakness, that I might feel the need of God.

I asked for all things that I might enjoy life,

I was given life, that I might enjoy all things.

I got nothing that I asked for - but everything I had hoped for.

Almost despite myself, my unspoken prayers were answered.

I am among all men most richly blessed.'

An unknown Confederate Soldier.

Tuesday, March 25, 2008

Mengikut Yesus

KHOTBAH KRT Sektor 3 tgl 7 Maret 2007

Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikuti Dia

22 Dan Yesus berkata : ’ Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”

23 KataNya kepada mereka semua : ” Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. ”

24 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.

25 Apa gunanya seorang memperoleh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?

26 Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataanKu, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaanNya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus.

27 Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya diantara yang hadir disini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Kerajaan Allah.”

Untuk memberi gambaran pada kita mengenai konteks dari perikop ini ada baiknya kita kembali pada ayat 18 hingga 21, yang akan saya bacakan bagi kita semua.

(baca ayat 18-21)

Dalam ayat 20 Yesus bertanya kepada murid-muridNya :’ Menurut kamu, siapakah Aku ini? Dan Petrus menjawab :’Mesias dari Allah.” Mesias artinya Juruselamat. Apabila Yesus bertanya pada kita masing-masing yang ada ditempat ini .’ Menurut ibu/bapak ...., siapakah Aku ini ?, bagaimanakah kita menjawabnya? Hampir pasti kita akan mengaku Yesus sebagai Tuhan, sebagai Juruslamat kita. Tapi apakah kita sudah memahami makna dan konsekwensi dari pengakuan kita itu ?

Perikop ini mengandung banyak konsep dan pengertian yang kalau digali lebih jauh akan menjadi sangat luas. Namun dalam kesempatan ibadah KRT kita malam ini saya membaginya dalam 4 bagian utama yang dituntut dari kita dan saya ingin kita renungkan lebih jauh yaitu : 1. Mengaku Kristus sebagai Tuhan. 2. Menyangkal diri kita, dan 3 : Memikul salib kita dan 4 : Mengikut Kristus.

1. Mengaku Kristus sebagai Tuhan

Mengaku Kristus sebagai Tuhan adalah bagian dari jatidiri kita sebagai orang Kristen, bagian dari proses penyelamatan umat manusia, yang menjadi pesan pokok dan rangkuman seluruh isi firman Tuhan. Hal ini merupakan inti dari pengakuan iman kita yang setiap Minggu kita ucapkan.

Dalam Roma 10 ayat 9-10 dikatakan sbb :

Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.

Ayat ini merupakan penjelasan yang lebih rinci dari apa yang dikatakan lebih tegas pada Kisah Rasul 16:31 :

Jawab mereka :’Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’

Maka jika kita mengaku dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan kita, dan percaya sepenuhnya bahwa Allah telah membangkitkanNya dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Apa artinya pengakuan ? Pengakuan adalah hati yang percaya dan diwujudkan dalam perbuatan. Pengakuan adalah iman dalam hati yang murni dan dinyatakan hingga terwujud dan terdengar. Bukan hanya mengucapkan Aku Percaya dengan keras dan benar, tetapi kata2 yang keluar dari mulut namun berasal dari hati. Oleh karena itu kita tidak mungkin selamat karena iman kita namun tidak mau mengaku Yesus sebagai Tuhannya dihadapan manusia. Tetapi perikop ini akan mengatakan lebih dari sekedar berkata-kata, tetapi melalui beberapa proses. Tak ada orang yang benar-benar mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhannya jika dia tidak menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Dia.

23 KataNya kepada mereka semua : ” Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. ”

Ayat ini tidak ditujukan hanya kepada murid-muridNya tetapi kepada semua orang. Kita perhatikan perkataan ” ia harus...” Ini bukan pilihan, sesuatu yang dapat dihindarkan, namun merupakan perintah. Didalam judul perikop ini dikatakan merupakan persyaratan bagi setiap orang yang mau mengikut Yesus.

Logika dari perkataan Kristus ini adalah bahwa tak ada seorangpun yang luput dari kriteria ini. Bayangkan seorang berkata :’Aku menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatku, yakni Dia Putra Allah yang menebusku dan menjadi Tuhanku, namun yang mengatur jalan hidupku adalah aku sendiri.’ Ini tidak mungkin bagi orang yang mengaku dirinya Kristen. Ini adalah orang yang mengaku-ngaku sebagai Kristen, yang mempermainkan keKristenan itu sendiri.

Bagaimana kita bisa tidak mengaku kepada Kristus apabila Allah sendiri telah memuliakanNya ?

Mari kita baca dari Filipi 2 : 9-11 sbb :

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama diatas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada dilangit dan yang ada diatas bumi dan yang ada dibawah bumi, dan segala lidah mengaku ’Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa.’

Saudara-saudaraku, bukankah kita harus meninggikan Yesus Juruslamat sebagai Kristus yang diutus oleh Allah Bapa? Pengakuan kita haruslah seperti Petrus dan Yohannes yang dengan berani mengaku dihadapan pemuka Yahudi sesudah Yesus naik ke surga, yang kita baca pada Kisah Rasul 4 ayat 12 sbb :

Dan keselamatan tidak ada didalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.

Hubungan kita dengan Kristus yang menyelamatkan kita, dalam bentuk pengorbananNya dikayu salib itu diberikan kepada kita sebagai pemberian, anugerah, bukan karena sesuatu yang kita lakukan. Mengapa? Karena dialah Yesus. Dengan perkataan lain, kita mengasihi Yesus, karena Dia lebih dahulu mengasihi kita dan menyerahkan diriNya bagi kita. Maka jika kita mempermainkan keKristenan kita diluar dasar tadi, lebih baik kita berhenti membuang-buang waktu kita. Jika kita tidak tertarik mengenai hal ini, maka tidak ada apapun dalam iman Kristiani yang dapat menarik perhatian kita. Namun jika kita sungguh-sungguh mengasihiNya maka kita akan melakukan hal yang kedua yaitu :

2.Menyangkal diri kita

Konsep ini termasuk yang paling sulit untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang menganggap bahwa menjadi orang Kristen berarti harus menjauhkan diri dari kenikmatan duniawi, atau hal-hal yang bersifat materialistis. Sesungguhnya yang dikatakan disini jauh lebih dari itu. Bukan saja kita menyangkal akan beberapa hal dalam dunia ini, namun lebih ke akarnya yaitu menyangkal diri kita itu sendiri. Artinya sifat manusia yang selalu mendahulukan dirinya sendiri, mengagungkan diri sendiri. Tuhan tidak mengatakan agar mengabaikan keunikan diri kita sebagai ciptaan Tuhan yang diciptakanNya agar memuliakanNya. Yang perlu kita sangkal adalah ’kemutlakan atau keutamaan diri sendiri’. Kita diminta untuk selalu melihat Yesus sebagai Tuhan yang mutlak dan mulia, dimana kita dihadapanNya demikian kecil. Kita diminta agar berkata padaNya, seperti juga Yesus yang mengaku kepada Allah Bapa ’bukan kehendakku, tetapi kehendakMu lah yang jadi.’ Dalam Markus 14: 36 dikatakan sbb :

KataNya :”Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagiMu, ambillah cawan ini dari padaKu, tetapi janganlah apa yang aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”

Dijaman sekarang, ini menjadi sulit karena kita dituntut untuk lebih percaya diri, mampu mengekspresikan diri, dan berbagai prinsip duniawi yang mendorong pemuasan diri sendiri se maksimal mungkin. Penyangkalan diri yang diminta dari kita adalah selalu mendahulukan kehendak Tuhan sebelum diri kita sendiri, dan bertanya dalam hati : Apakah yang kulakukan ini berkenan pada Tuhan ?

Rasul Paulus mengerti sekali penyangkalan diri ini dan menjalankannya hingga mati dipancung oleh penguasa Romawi. Penyangkalan diri ini dengan klasik dapat kita baca dalam Galatia 2 : 20 sbb :

Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup didalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang didalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.

3. Memikul salib kita sendiri.

Di abad-abad pertama, mengaku sebagai Kristen dapat dikatakan menanggung risiko menjadi martir, karena mereka dikejar dan dibunuh karena imannya. Mereka seperti menanggung salib menuju kematian mereka sendiri. Di masa penginjilan mulai dengan misionaris ke daerah-daerah terpencil, konon, banyak diantara mereka yang berangkat naik kapal dan memuat barang-barang pribadinya didalam peti mati, bukan didalam koper. Mereka sudah merencanakan untuk mati disana, dan tidak terpikir untuk kembali lagi ke tempat asalnya. Dimasa sekarang banyak orang Kristen menterjemahkan ’memikul salib’ ini secara enteng, yaitu hidup saya yang miskin, sendiri, atau pekerjaan yang menguras tenaga atau pikiran, pergumulan keluarga, atau yang sering adalah penyakit atau kondisi kesehatan. Ternyata jauh lebih daripada itu. Memikul salib kita sendiri, sejajar dengan bagian sebelumnya yaitu penyangkalan pada diri kita sendiri. Seperti halnya Kristus telah mati bagi kita, maka kita juga harus menyerahkan hidup kita bagi Dia. Dan kita harus melakukannya setiap hari. Kita berbuat seperti yang dikatakan Paulus dalam Roma 6 :10-11 :

Sebab kematianNya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupannya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya, bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.’

Memikul salib kita setiap hari berarti membuat komitmen yang permanen bagi Kristus dalam hidup kita, karena Yesus juga komit pada kita. Dalam komitmen ini juga berarti komitmen pada gerejaNya. Dan apabila kita sudah menjadi jemaat gereja Tuhan tertentu, maka kita juga mempunyai kesetiaan kepada jemaat itu dan kepada pemimpin yang telah dipercayakan dalamnya. Kekristenan adalah komitmen seumur hidup, tanpa istirahat atau cuti, karena Yesus juga setia pada kita.

Wujud nyata memikul salib setiap hari ini misalnya :

a. mengikuti ibadah di gereja, meskipun saya masih capek atau ada godaan acara lain

b. memberi persembahan dalam setiap kesempatan, meskipun perlu dana

c.memenuhi kewajiban, sekalipun saya tidak menginginkannya

d. berbicara dalam nama Kristus, sekalipun harus melawan arus

e. berupaya mengajak orang mengenal Kristus

f. berbuat sesuatu yang saya tahu benar, sekalipun tak ada yang besertaku.

4. Mengikut Yesus

Yesus sungguh Kristus yang diutus oleh Allah Bapa bagi kita. Yesus sendiri dengan jelas mengatakannya dalam Yohannes 14:6 :

Kata Yesus kepadanya :”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Keselamatan yang dimenangkan Yesus bagi kita diberikan cuma-cuma. Hanya karena kasihNya semata dan diterima hanya dengan iman pula. Namun, sebagaimana telah diucapkan Yesus, ada yang harus kita lakukan untuk menjadi muridNya, untuk menjadi pengikutNya. Dikatakan pada Matius 10 ayat 22 dan 25 :

Dan kamu akan dibenci semua orang karena namaKu ; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Ketika kita menyatakan Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat dunia, maka kita akan dibenci oleh dunia ini, dan dituduh sebagai fanatik agama yang picik dan sempit dan tidak toleran. Bahkan di negeri-negeri yang kadar kebebasannya rendah atau tertekan, kita sering menjadi korban semena-mena, ditangkap, dipenjara, bahkan dibunuh.

Prioritas bagi anak-anak Tuhan – murid-murid Yesus, adalah menjadi berbeda dari orang-orang lain di dunia ini. Ketika dunia ini bersusah payah mengejar kehendaknya dan membuat pemilikan harta menjadi prioritas tujuan hidupnya, maka anak Tuhan berteguh untuk setia dan menjadikan pelayanan bagi Tuhan menjadi prioritas utama hidupnya. Karena bagaimanapun juga, apalah gunanya memiliki kekayaan dunia namun kehilangan jiwanya secara kekal ? Mari kita memeriksa diri kita, kehidupan kita. Apabila kita tidak ada bedanya, atau bahkan lebih buruk daripada tetangga kita yang tidak percaya, kiranya Tuhan mau membawa kita kepada pertobatan, hingga memperbaharui iman dan kasih kita pada Yesus. Jangan sampai dikatakan bahwa kita malu akan Juruselamat dan kita gagal untuk mengaku percaya dalam perkataan dan perbuatan. Akan tetapi, hendaknya kita setiap hari memikul salib kita dan mengikutNya. Dia berjanji akan selalu bersama kita ketika kita mengikut Dia, dan kita boleh yakin bahwa Dia akan mengaku bagi kita kehadapan Allah Bapa disurga pada hari terakhir penghakiman itu. Amin.

Monday, March 24, 2008

P.S. : I Love You

.
oleh : Ronald Hutapea *

Cinta. Semua orang menginginkannya. Rasa dicintai adalah sesuatu yang paling menakjubkan yang dapat kita alami. Cinta itu ‘sejuta rasanya’ kata sebuah lagu. Namun bukan sekedar cinta, tetapi harus cinta yang murni, yang tidak bersyarat. Adakah cinta kasih yang seperti itu ?

Belum lama ini saya menonton sebuah film berjudul P.S. I Love You. Tadinya saya berfikir, ah ini pastilah satu film yang liner, ketemuan, naksir, jadian, cekcok, selingkuh, akur lagi lalu hidup bahagia selanjutnya, seperti film-film Hollywood atau film nasional yang sedang marak sekarang ini. Namun ternyata bukan. Ada twist tersendiri yang membuat film ini unik dan menarik. Si wanita yang diperankan oleh Hillary Swank dikisahkan ditinggal oleh kekasihnya (Gerald Butler) yang meninggal karena kanker otak. Cerita ini menjadi unik, karena sang janda kemudian mendapat surat-surat dari sang kekasih pada saat-saat penting dalam kehidupannya. Rupanya sebelum meninggal suaminya telah mempersiapkan kejutan-kejutan ini datang sekaligus memberi isi dan kekuatan pada wanita itu.

Pada saat-saat pra Paskah sekarang ini saya jadi sadar bahwa kitapun telah ditinggal secara fisik oleh Yesus 2000 tahun yang lalu. Tetapi hingga saat ini ‘surat-surat cinta’ dari Tuhan selalu datang kepada kita, setiap hari dalam firmanNya, yang memberi kekuatan, petunjuk dan menghibur kita. Tuhan mengasihi kita sebagaimana adanya keseharian kita, bukan karena kebaikan atau kesucian kita. Firman Tuhan dalam Alkitab berisikan cinta kasihNya yang murni. Pernahkah anda berpikir apakah orang lain mencintai anda sebagaimana adanya anda. Mengapa cinta murni itu semakin sulit ditemui sekarang ini ? Mungkin karena kita mencarinya ditempat yang keliru. Mungkin saja kita mencari cinta didalam keluarga sendiri. Anda sudah berusaha sepanjang hidup menyenangkan dan membuat mereka bahagia. Namun itu tidak pernah cukup. Mungkin juga kita mencari cinta dalam suatu hubungan fisik. Anda berfikir :’ Jika saya menyerahkan tubuh saya, saya akan merasa dicintai.’ Namun itupun tidak berhasil anda peroleh.

Ada suatu ilustrasi berupa pengalaman seorang perawat, yang saya sarikan dari email yang saya terima beberapa waktu lalu. Dia bertutur, suatu pagi sekitar jam 8:30, seorang bapak yang sudah berusia sekitar 80an datang untuk mencabut jahitan di jempolnya. Dia katakan dia buru-buru karena ada janji jam 9. Saya segera melayaninya dan memintanya duduk, karena saya yakin baru sekitar satu jam lagi ada petugas yang dapat menanganinya. Pria itu sebentar-sebentar melihat pada arlojinya, sehingga saya memutuskan untuk menangani kasusnya karena kebetulan saya tidak menghadapi pasien. Saat pemeriksaan, saya lihat bahwa lukanya sudah menyembuh, jadi saya segera melepaskan benang jahitannya dan membalut kembali lukanya. Sambil bekerja, saya bertanya apakah dia ada janji dengan dokter ditempat lain, karena kelihatannya dia tergesa-gesa. Dia jawab tidak ada, tetapi dia harus buru-buru ke panti perawatan lansia supaya dapat makan pagi dengan isterinya. Lalu saya menanyakan perkembangan kesehatan isterinya. Dia jawab bahwa isterinya telah dirawat disana beberapa lama karena menderita Alzheimer. Saya tanyakan, apakah isterinya akan kuatir bila dia sedikit terlambat. Dia jawab, bahwa isterinya sudah tidak mengenali dia lagi, sejak lima tahun terakhir ini. Saya kaget, lalu bertanya ‘ Lho, anda tetap mengunjunginya setiap pagi, meskipun dia tidak mengenali anda?’ Pria tua itu tersenyum lalu menepuk tangan saya sambil berkata ‘Memang dia tidak mengenali saya, tetapi saya masih tahu dia siapa.’ Saya menahan air mata haru ketika pria itu berlalu. Lengan saya merinding sambil merenung, ‘ Inilah bentuk cinta yang saya inginkan hadir dalam hidup saya.’

Saudara, cinta murni tidak harus selalu lahiriah, atau romantis. Cinta murni adalah menerima apa adanya hari ini, atau hari-hari sebelumnya, dan juga menerima apa yang akan terjadi atau tidak akan terjadi esok. Kedamaian adalah saat kita menatap surya di senja hari dan tahu untuk berterimakasih kepada siapa. Orang yang paling bahagia tidak musti seseorang yang memiliki yang terbaik, melainkan mereka yang menikmati apa yang dia miliki. Rahasia meniti kehidupan ini bukanlah bagaimana agar selamat dari badai topan, akan tetapi bagaimana kita dapat menari dibawah derai hujan.’

Ada juga orang yang mencoba mencari cinta dalam popularitas. ‘Kalau orang mengenalku, aku akan dicintai dan diterima.’ Ternyata kebanyakan selebritis tidak menemukan cinta itu, bahkan betapa terkenalnyapun anda, anda masih merasa kesepian. Lalu, kemana kita mencari cinta yang benar murni, tak pamrih. Hanya ada satu tempat dimana cinta tidak pernah mengecewakan. Kasih murni hanya ditemukan pada Tuhan Allah. Allah adalah cinta. Tetapi bagaimana kita mengetahui apa Allah mencintai kita ? Dengan mengenal Yesus Kristus, kita akan melihat wujud cinta yang paling suci. Yesus berkata dalam Yohanes 3 : 16 ’ Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.’ Visualisasinya adalah didalam gambar Yesus yang tergantung dikayu salib. Itulah post –scriptum (P.S) terbesar yang diberikan pada kita . Allah menunjukkan cintaNya didalam sosok dan kehidupan Kristus. Dan Yesus menunjukkan bahwa cinta itu tidak diukur hanya dengan perasaan, melainkan dengan pengorbanan. Andaikan seseorang bertanya kepada Yesus ’Sebesar apakah cintaMu kepadaku?’ Dia merentangkan kedua tanganNya yang terpaku di kayu salib itu dan berkata ’Sebesar ini.’ Anda dan saya dapat menikmati cinta kasihNya. Selamat menyambut Paskah.

* penulis seorang warga jemaat GPIB Bukit Moria di Jakarta