Wednesday, March 26, 2008

Kata-kata yang memulihkan

Memuji Tuhan adalah sumber kesembuhan. Pernahkah anda memikirkan untuk memuji Tuhan dikala anda sakit ? Jarang sekali ada orang yang kesakitan, dapat memikirkan untuk bernyanyi atau bersaksi untuk memuji Tuhan. Tetapi, kita sering mendengar bahwa ada orang yang berusia lanjut dan jarang sakit karena kesukaannya adalah lagu-lagu pujian bagi Tuhan. Contohnya ibu saya sendiri alm., semasa hidupnya hingga pada usianya yang sudah lebih 85 tahun masih bersemangat memimpin dan melatih paduan suara di gerejanya di Pematangsiantar. Bukan hanya 1 koor, tetapi 2, bahkan pernah hingga 3 paduan suara wanita yang dipimpinnya. Dan bukan sekedar koor, namun PS yang berprestasi dengan menjadi juara dalam festival PS setempat. Tuhan Maha Besar, beliau menikmati dan memanfaatkan karunia itu dan mempersembahkan sebagian besar hidupnya memuliakan Tuhan melalui pujian. Kini beliau telah bersama Tuhan, dipanggil kerumah Bapa pada usia 89 tahun.

Saya sendiri, yang rupanya diberkati untuk mewarisi bakat beliau dan memimpin satu PS di gereja kami, PS Sela GPIB Bukit Moria, sering merasakan bahwa sekalipun kadang-kadang terasa agak lemah atau sakit, kalau tiba waktunya untuk menyanyi atau melatih koor memuji Tuhan, maka perasaan itu hilang, bahkan menjadi kuat dan bersemangat kembali. Seperti dikatakan oleh Daud : 'Pujilah Tuhan, hai jiwaku. Pujilah namaNya yang kudus, hai segenap batinku. Pujilah Tuhan, wahai jiwaku, dan janganlah lupa akan segala kebaikanNya. Dia yang telah mengampuni segala kesalahan-mu, yang menyembuhkan segala penyakitmu. (Mazmur 103:1-3).

Bapa disurga, bukalah mata saya untuk dapat mengetahui, baik jasmani maupun rohani, akan apa yang dapat saya lakukan untuk mencegah dengan mengalahkan penyakitku ini. Berikanlah saya kemampuan dan hikmat untuk dapat menerapkan yang telah saya pelajari. Berikanlah kepada saya damai sejahteraMu,dan jauhkanlah saya dari ketakutan, kegelisahan, dan kekhawatiran karena pada kehendakMu sajalah saya percaya. Didalam nama Yesus dari Nazareth, Tuhan Penyembuh saya. Amin.

Aku percaya bahwa Firman Tuhan adalah sumber kehidupan, dan rahasia dari kehidupan itu, termasuk kesehatan dan kesembuhan itu ada didalamnya. Bila kita menekuni akan firmanNya dan mencari petunjuk didalamNya maka Tuhan akan memberi kita pengampunan dan kesembuhan secara langsung dan pasti. Langsung berarti bahwa Tuhan sendiri yang menunjukkan kuasaNya, tanpa peran-taraan manusia. Pasti, berarti kita telah disembuhkan, dan iman kita yang menyatakan percaya disusul dengan tindakan kita sungguh-sungguh menunjukkan kesembuhan total. Kiranya kuasa Tuhan akan bekerja dengan ajaib, menumbuhkan iman percaya bagi kita didalam mencari firmanNya yang me-nyembuhkan segala penyakit kita. Tuhan Maha Besar.

Iman adalah keputusan untuk percaya kepada kepada Firman Allah lebih dari segala sesuatu, termasuk penyakitku ini. Ini bukan berarti bahwa saya berpura-pura tidak sakit, melainkan memilih untuk percaya akan kuasa Allah yang dapat menyembuhkan.

Alkitab berkata 'Tidak tahukah kamu bahwa Roh Allah diam didalam kamu? Jikapun ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus, dan bait Allah itu ialah kamu (1 Kor. 3: 16-17).

Saudaraku yang kekasih, aku berdoa semoga engkau baik-baik serta sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja (3 Yoh.2).

Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara Tuhan Allahmu, dan melakukan apa yang benar dimataNya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintahNya, dan tetap mengikuti segala ketetapanNya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Akulah Tuhan yang menyembuhkan engkau. (Keluaran 15:26).

Tetapi aku ini tertindas dan kesakitan ; keselamatan dari padaMu, ya Allah, kiranya melindungi aku. Aku akan memuji-muji Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur. (Mazmur 69:31-32).

Allah mengerti segala penyakitku, dan akan melepaskan serta menyembuhkanku. Karena Tuhan berjanji : 'Tuhan membantu dia diranjangnya waktu sakit; ditempat tidurnya Kau pulihkannya sama sekali dari penyakitnya.(Mazmur 41:4).

Akan tetapi tidak selalu orang percaya pada pengampunan dan kuasa penyembuhan dari Tuhan, karena iman serta keraguan hatinya.

Kadang-kadang kita itu tidak percaya kepada kemurahan Tuhan dan menuduhNya berbuat tidak adil kepada kita seperti pada kitab Yeremia 15 : 18a: 'Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? .

Tetapi dibagian lain, yaitu pada Yer 17:14 di-katakan: ' Sembuhkanlah aku, ya Tuhan, maka aku akan sembuh ; selamatkanlah aku, maka aku akan selamat, sebab Engkaulah kepujianku.' Disini kembali kita diingatkan akan hubungan antara kesembuhan dan kepujian. Ternyata sangatlah erat keterkaitannya.

Tennyson pernah berkata : 'Tuhan memberikan cinta pada kita. Dan Dia meminjamkan sesuatu pada kita untuk dicintai.' Jikalau Tuhan hendak memberi, maka dengan mudah diberiNya, dan kalau Tuhan mau mengambil, maka dapat diambilnya. Ini berlaku buat kekasih hati kita, harta kita maupun kesehatan kita. Tetapi demikian pula dengan musuh kita, dosa kita, bahkan tentu saja penyakit kita, dengan mudah mungkin diambilNya dari kita.

Daud, Raja Israel, yang suka memuji Tuhan melalui nyanyian pujian, memiliki pengertian mendalam dari Tuhan tentang kesembuhan. Dalam Mazmur 103 ia memaparkan perkembangan yang dapat terjadi dari dalam kegelapan dan keputusasaan akibat penyakit menuju kesembuhan. Berikut inilah apa yang dika-takannya : 'Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah namaNya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Dan jangan lupakan segala kebaikanNya. Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu. Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat. Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti burung rajawali.'

Pada bagian lainnya dia berkata ' Tujukanlah pandanganmu kepadanya, maka mukamu akan berseri-seri..'. Berarti memuji Tuhan akan mengalihkan pandangan kita dari dalam diri kita sendiri, dari kesusahan kita, dari penyakit kita, dari darah tinggi, hepatitis, sakit jantung kita, dari kelemahan apapun yang saat ini sedang kita derita. Dalam memuji Tuhan, perhatian kita terpusat kepada kebaikanNya, kepada apa yang telah dilakukanNya. Ini dapat mengalirkan sukacita kepada pikiran, suasana emosi dan perasaan kita. Sukacita dapat memperkuat sistim kekebalan kita. Memuji Tuhan adalah baik bagi kesehatan kita.

Seorang perajurit Perang Saudara yang tak dikenal menulis doa ini pada secarik kertas yang ditemukan pada tempat pertempuran yang berbunyi sbb :

Answered Prayer

I asked God for strength, that I might achieve.

I was made weak, that I may learn humbly to obey.

I asked for health, that I might do greater things,

I was given infirmity, that I might do better things.

I asked for riches, that I might be happy.

I was given poverty, that I might be wise...

I asked for power, that I might have the praise of men,

I was given weakness, that I might feel the need of God.

I asked for all things that I might enjoy life,

I was given life, that I might enjoy all things.

I got nothing that I asked for - but everything I had hoped for.

Almost despite myself, my unspoken prayers were answered.

I am among all men most richly blessed.'

An unknown Confederate Soldier.

Tuesday, March 25, 2008

Mengikut Yesus

KHOTBAH KRT Sektor 3 tgl 7 Maret 2007

Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikuti Dia

22 Dan Yesus berkata : ’ Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”

23 KataNya kepada mereka semua : ” Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. ”

24 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.

25 Apa gunanya seorang memperoleh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?

26 Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataanKu, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaanNya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus.

27 Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya diantara yang hadir disini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Kerajaan Allah.”

Untuk memberi gambaran pada kita mengenai konteks dari perikop ini ada baiknya kita kembali pada ayat 18 hingga 21, yang akan saya bacakan bagi kita semua.

(baca ayat 18-21)

Dalam ayat 20 Yesus bertanya kepada murid-muridNya :’ Menurut kamu, siapakah Aku ini? Dan Petrus menjawab :’Mesias dari Allah.” Mesias artinya Juruselamat. Apabila Yesus bertanya pada kita masing-masing yang ada ditempat ini .’ Menurut ibu/bapak ...., siapakah Aku ini ?, bagaimanakah kita menjawabnya? Hampir pasti kita akan mengaku Yesus sebagai Tuhan, sebagai Juruslamat kita. Tapi apakah kita sudah memahami makna dan konsekwensi dari pengakuan kita itu ?

Perikop ini mengandung banyak konsep dan pengertian yang kalau digali lebih jauh akan menjadi sangat luas. Namun dalam kesempatan ibadah KRT kita malam ini saya membaginya dalam 4 bagian utama yang dituntut dari kita dan saya ingin kita renungkan lebih jauh yaitu : 1. Mengaku Kristus sebagai Tuhan. 2. Menyangkal diri kita, dan 3 : Memikul salib kita dan 4 : Mengikut Kristus.

1. Mengaku Kristus sebagai Tuhan

Mengaku Kristus sebagai Tuhan adalah bagian dari jatidiri kita sebagai orang Kristen, bagian dari proses penyelamatan umat manusia, yang menjadi pesan pokok dan rangkuman seluruh isi firman Tuhan. Hal ini merupakan inti dari pengakuan iman kita yang setiap Minggu kita ucapkan.

Dalam Roma 10 ayat 9-10 dikatakan sbb :

Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.

Ayat ini merupakan penjelasan yang lebih rinci dari apa yang dikatakan lebih tegas pada Kisah Rasul 16:31 :

Jawab mereka :’Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’

Maka jika kita mengaku dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan kita, dan percaya sepenuhnya bahwa Allah telah membangkitkanNya dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Apa artinya pengakuan ? Pengakuan adalah hati yang percaya dan diwujudkan dalam perbuatan. Pengakuan adalah iman dalam hati yang murni dan dinyatakan hingga terwujud dan terdengar. Bukan hanya mengucapkan Aku Percaya dengan keras dan benar, tetapi kata2 yang keluar dari mulut namun berasal dari hati. Oleh karena itu kita tidak mungkin selamat karena iman kita namun tidak mau mengaku Yesus sebagai Tuhannya dihadapan manusia. Tetapi perikop ini akan mengatakan lebih dari sekedar berkata-kata, tetapi melalui beberapa proses. Tak ada orang yang benar-benar mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhannya jika dia tidak menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Dia.

23 KataNya kepada mereka semua : ” Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. ”

Ayat ini tidak ditujukan hanya kepada murid-muridNya tetapi kepada semua orang. Kita perhatikan perkataan ” ia harus... Ini bukan pilihan, sesuatu yang dapat dihindarkan, namun merupakan perintah. Didalam judul perikop ini dikatakan merupakan persyaratan bagi setiap orang yang mau mengikut Yesus.

Logika dari perkataan Kristus ini adalah bahwa tak ada seorangpun yang luput dari kriteria ini. Bayangkan seorang berkata :’Aku menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatku, yakni Dia Putra Allah yang menebusku dan menjadi Tuhanku, namun yang mengatur jalan hidupku adalah aku sendiri.’ Ini tidak mungkin bagi orang yang mengaku dirinya Kristen. Ini adalah orang yang mengaku-ngaku sebagai Kristen, yang mempermainkan keKristenan itu sendiri.

Bagaimana kita bisa tidak mengaku kepada Kristus apabila Allah sendiri telah memuliakanNya ?

Mari kita baca dari Filipi 2 : 9-11 sbb :

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama diatas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada dilangit dan yang ada diatas bumi dan yang ada dibawah bumi, dan segala lidah mengaku ’Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa.’

Saudara-saudaraku, bukankah kita harus meninggikan Yesus Juruslamat sebagai Kristus yang diutus oleh Allah Bapa? Pengakuan kita haruslah seperti Petrus dan Yohannes yang dengan berani mengaku dihadapan pemuka Yahudi sesudah Yesus naik ke surga, yang kita baca pada Kisah Rasul 4 ayat 12 sbb :

Dan keselamatan tidak ada didalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.

Hubungan kita dengan Kristus yang menyelamatkan kita, dalam bentuk pengorbananNya dikayu salib itu diberikan kepada kita sebagai pemberian, anugerah, bukan karena sesuatu yang kita lakukan. Mengapa? Karena dialah Yesus. Dengan perkataan lain, kita mengasihi Yesus, karena Dia lebih dahulu mengasihi kita dan menyerahkan diriNya bagi kita. Maka jika kita mempermainkan keKristenan kita diluar dasar tadi, lebih baik kita berhenti membuang-buang waktu kita. Jika kita tidak tertarik mengenai hal ini, maka tidak ada apapun dalam iman Kristiani yang dapat menarik perhatian kita. Namun jika kita sungguh-sungguh mengasihiNya maka kita akan melakukan hal yang kedua yaitu :

2.Menyangkal diri kita

Konsep ini termasuk yang paling sulit untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang menganggap bahwa menjadi orang Kristen berarti harus menjauhkan diri dari kenikmatan duniawi, atau hal-hal yang bersifat materialistis. Sesungguhnya yang dikatakan disini jauh lebih dari itu. Bukan saja kita menyangkal akan beberapa hal dalam dunia ini, namun lebih ke akarnya yaitu menyangkal diri kita itu sendiri. Artinya sifat manusia yang selalu mendahulukan dirinya sendiri, mengagungkan diri sendiri. Tuhan tidak mengatakan agar mengabaikan keunikan diri kita sebagai ciptaan Tuhan yang diciptakanNya agar memuliakanNya. Yang perlu kita sangkal adalah ’kemutlakan atau keutamaan diri sendiri’. Kita diminta untuk selalu melihat Yesus sebagai Tuhan yang mutlak dan mulia, dimana kita dihadapanNya demikian kecil. Kita diminta agar berkata padaNya, seperti juga Yesus yang mengaku kepada Allah Bapa ’bukan kehendakku, tetapi kehendakMu lah yang jadi.’ Dalam Markus 14: 36 dikatakan sbb :

KataNya :”Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagiMu, ambillah cawan ini dari padaKu, tetapi janganlah apa yang aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”

Dijaman sekarang, ini menjadi sulit karena kita dituntut untuk lebih percaya diri, mampu mengekspresikan diri, dan berbagai prinsip duniawi yang mendorong pemuasan diri sendiri se maksimal mungkin. Penyangkalan diri yang diminta dari kita adalah selalu mendahulukan kehendak Tuhan sebelum diri kita sendiri, dan bertanya dalam hati : Apakah yang kulakukan ini berkenan pada Tuhan ?

Rasul Paulus mengerti sekali penyangkalan diri ini dan menjalankannya hingga mati dipancung oleh penguasa Romawi. Penyangkalan diri ini dengan klasik dapat kita baca dalam Galatia 2 : 20 sbb :

Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup didalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang didalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.

3. Memikul salib kita sendiri.

Di abad-abad pertama, mengaku sebagai Kristen dapat dikatakan menanggung risiko menjadi martir, karena mereka dikejar dan dibunuh karena imannya. Mereka seperti menanggung salib menuju kematian mereka sendiri. Di masa penginjilan mulai dengan misionaris ke daerah-daerah terpencil, konon, banyak diantara mereka yang berangkat naik kapal dan memuat barang-barang pribadinya didalam peti mati, bukan didalam koper. Mereka sudah merencanakan untuk mati disana, dan tidak terpikir untuk kembali lagi ke tempat asalnya. Dimasa sekarang banyak orang Kristen menterjemahkan ’memikul salib’ ini secara enteng, yaitu hidup saya yang miskin, sendiri, atau pekerjaan yang menguras tenaga atau pikiran, pergumulan keluarga, atau yang sering adalah penyakit atau kondisi kesehatan. Ternyata jauh lebih daripada itu. Memikul salib kita sendiri, sejajar dengan bagian sebelumnya yaitu penyangkalan pada diri kita sendiri. Seperti halnya Kristus telah mati bagi kita, maka kita juga harus menyerahkan hidup kita bagi Dia. Dan kita harus melakukannya setiap hari. Kita berbuat seperti yang dikatakan Paulus dalam Roma 6 :10-11 :

Sebab kematianNya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupannya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya, bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.’

Memikul salib kita setiap hari berarti membuat komitmen yang permanen bagi Kristus dalam hidup kita, karena Yesus juga komit pada kita. Dalam komitmen ini juga berarti komitmen pada gerejaNya. Dan apabila kita sudah menjadi jemaat gereja Tuhan tertentu, maka kita juga mempunyai kesetiaan kepada jemaat itu dan kepada pemimpin yang telah dipercayakan dalamnya. Kekristenan adalah komitmen seumur hidup, tanpa istirahat atau cuti, karena Yesus juga setia pada kita.

Wujud nyata memikul salib setiap hari ini misalnya :

a. mengikuti ibadah di gereja, meskipun saya masih capek atau ada godaan acara lain

b. memberi persembahan dalam setiap kesempatan, meskipun perlu dana

c.memenuhi kewajiban, sekalipun saya tidak menginginkannya

d. berbicara dalam nama Kristus, sekalipun harus melawan arus

e. berupaya mengajak orang mengenal Kristus

f. berbuat sesuatu yang saya tahu benar, sekalipun tak ada yang besertaku.

4. Mengikut Yesus

Yesus sungguh Kristus yang diutus oleh Allah Bapa bagi kita. Yesus sendiri dengan jelas mengatakannya dalam Yohannes 14:6 :

Kata Yesus kepadanya :”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Keselamatan yang dimenangkan Yesus bagi kita diberikan cuma-cuma. Hanya karena kasihNya semata dan diterima hanya dengan iman pula. Namun, sebagaimana telah diucapkan Yesus, ada yang harus kita lakukan untuk menjadi muridNya, untuk menjadi pengikutNya. Dikatakan pada Matius 10 ayat 22 dan 25 :

Dan kamu akan dibenci semua orang karena namaKu ; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Ketika kita menyatakan Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat dunia, maka kita akan dibenci oleh dunia ini, dan dituduh sebagai fanatik agama yang picik dan sempit dan tidak toleran. Bahkan di negeri-negeri yang kadar kebebasannya rendah atau tertekan, kita sering menjadi korban semena-mena, ditangkap, dipenjara, bahkan dibunuh.

Prioritas bagi anak-anak Tuhan – murid-murid Yesus, adalah menjadi berbeda dari orang-orang lain di dunia ini. Ketika dunia ini bersusah payah mengejar kehendaknya dan membuat pemilikan harta menjadi prioritas tujuan hidupnya, maka anak Tuhan berteguh untuk setia dan menjadikan pelayanan bagi Tuhan menjadi prioritas utama hidupnya. Karena bagaimanapun juga, apalah gunanya memiliki kekayaan dunia namun kehilangan jiwanya secara kekal ? Mari kita memeriksa diri kita, kehidupan kita. Apabila kita tidak ada bedanya, atau bahkan lebih buruk daripada tetangga kita yang tidak percaya, kiranya Tuhan mau membawa kita kepada pertobatan, hingga memperbaharui iman dan kasih kita pada Yesus. Jangan sampai dikatakan bahwa kita malu akan Juruselamat dan kita gagal untuk mengaku percaya dalam perkataan dan perbuatan. Akan tetapi, hendaknya kita setiap hari memikul salib kita dan mengikutNya. Dia berjanji akan selalu bersama kita ketika kita mengikut Dia, dan kita boleh yakin bahwa Dia akan mengaku bagi kita kehadapan Allah Bapa disurga pada hari terakhir penghakiman itu. Amin.

Monday, March 24, 2008

P.S. : I Love You

.
oleh : Ronald Hutapea *

Cinta. Semua orang menginginkannya. Rasa dicintai adalah sesuatu yang paling menakjubkan yang dapat kita alami. Cinta itu ‘sejuta rasanya’ kata sebuah lagu. Namun bukan sekedar cinta, tetapi harus cinta yang murni, yang tidak bersyarat. Adakah cinta kasih yang seperti itu ?

Belum lama ini saya menonton sebuah film berjudul P.S. I Love You. Tadinya saya berfikir, ah ini pastilah satu film yang liner, ketemuan, naksir, jadian, cekcok, selingkuh, akur lagi lalu hidup bahagia selanjutnya, seperti film-film Hollywood atau film nasional yang sedang marak sekarang ini. Namun ternyata bukan. Ada twist tersendiri yang membuat film ini unik dan menarik. Si wanita yang diperankan oleh Hillary Swank dikisahkan ditinggal oleh kekasihnya (Gerald Butler) yang meninggal karena kanker otak. Cerita ini menjadi unik, karena sang janda kemudian mendapat surat-surat dari sang kekasih pada saat-saat penting dalam kehidupannya. Rupanya sebelum meninggal suaminya telah mempersiapkan kejutan-kejutan ini datang sekaligus memberi isi dan kekuatan pada wanita itu.

Pada saat-saat pra Paskah sekarang ini saya jadi sadar bahwa kitapun telah ditinggal secara fisik oleh Yesus 2000 tahun yang lalu. Tetapi hingga saat ini ‘surat-surat cinta’ dari Tuhan selalu datang kepada kita, setiap hari dalam firmanNya, yang memberi kekuatan, petunjuk dan menghibur kita. Tuhan mengasihi kita sebagaimana adanya keseharian kita, bukan karena kebaikan atau kesucian kita. Firman Tuhan dalam Alkitab berisikan cinta kasihNya yang murni. Pernahkah anda berpikir apakah orang lain mencintai anda sebagaimana adanya anda. Mengapa cinta murni itu semakin sulit ditemui sekarang ini ? Mungkin karena kita mencarinya ditempat yang keliru. Mungkin saja kita mencari cinta didalam keluarga sendiri. Anda sudah berusaha sepanjang hidup menyenangkan dan membuat mereka bahagia. Namun itu tidak pernah cukup. Mungkin juga kita mencari cinta dalam suatu hubungan fisik. Anda berfikir :’ Jika saya menyerahkan tubuh saya, saya akan merasa dicintai.’ Namun itupun tidak berhasil anda peroleh.

Ada suatu ilustrasi berupa pengalaman seorang perawat, yang saya sarikan dari email yang saya terima beberapa waktu lalu. Dia bertutur, suatu pagi sekitar jam 8:30, seorang bapak yang sudah berusia sekitar 80an datang untuk mencabut jahitan di jempolnya. Dia katakan dia buru-buru karena ada janji jam 9. Saya segera melayaninya dan memintanya duduk, karena saya yakin baru sekitar satu jam lagi ada petugas yang dapat menanganinya. Pria itu sebentar-sebentar melihat pada arlojinya, sehingga saya memutuskan untuk menangani kasusnya karena kebetulan saya tidak menghadapi pasien. Saat pemeriksaan, saya lihat bahwa lukanya sudah menyembuh, jadi saya segera melepaskan benang jahitannya dan membalut kembali lukanya. Sambil bekerja, saya bertanya apakah dia ada janji dengan dokter ditempat lain, karena kelihatannya dia tergesa-gesa. Dia jawab tidak ada, tetapi dia harus buru-buru ke panti perawatan lansia supaya dapat makan pagi dengan isterinya. Lalu saya menanyakan perkembangan kesehatan isterinya. Dia jawab bahwa isterinya telah dirawat disana beberapa lama karena menderita Alzheimer. Saya tanyakan, apakah isterinya akan kuatir bila dia sedikit terlambat. Dia jawab, bahwa isterinya sudah tidak mengenali dia lagi, sejak lima tahun terakhir ini. Saya kaget, lalu bertanya ‘ Lho, anda tetap mengunjunginya setiap pagi, meskipun dia tidak mengenali anda?’ Pria tua itu tersenyum lalu menepuk tangan saya sambil berkata ‘Memang dia tidak mengenali saya, tetapi saya masih tahu dia siapa.’ Saya menahan air mata haru ketika pria itu berlalu. Lengan saya merinding sambil merenung, ‘ Inilah bentuk cinta yang saya inginkan hadir dalam hidup saya.’

Saudara, cinta murni tidak harus selalu lahiriah, atau romantis. Cinta murni adalah menerima apa adanya hari ini, atau hari-hari sebelumnya, dan juga menerima apa yang akan terjadi atau tidak akan terjadi esok. Kedamaian adalah saat kita menatap surya di senja hari dan tahu untuk berterimakasih kepada siapa. Orang yang paling bahagia tidak musti seseorang yang memiliki yang terbaik, melainkan mereka yang menikmati apa yang dia miliki. Rahasia meniti kehidupan ini bukanlah bagaimana agar selamat dari badai topan, akan tetapi bagaimana kita dapat menari dibawah derai hujan.’

Ada juga orang yang mencoba mencari cinta dalam popularitas. ‘Kalau orang mengenalku, aku akan dicintai dan diterima.’ Ternyata kebanyakan selebritis tidak menemukan cinta itu, bahkan betapa terkenalnyapun anda, anda masih merasa kesepian. Lalu, kemana kita mencari cinta yang benar murni, tak pamrih. Hanya ada satu tempat dimana cinta tidak pernah mengecewakan. Kasih murni hanya ditemukan pada Tuhan Allah. Allah adalah cinta. Tetapi bagaimana kita mengetahui apa Allah mencintai kita ? Dengan mengenal Yesus Kristus, kita akan melihat wujud cinta yang paling suci. Yesus berkata dalam Yohanes 3 : 16 ’ Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.’ Visualisasinya adalah didalam gambar Yesus yang tergantung dikayu salib. Itulah post –scriptum (P.S) terbesar yang diberikan pada kita . Allah menunjukkan cintaNya didalam sosok dan kehidupan Kristus. Dan Yesus menunjukkan bahwa cinta itu tidak diukur hanya dengan perasaan, melainkan dengan pengorbanan. Andaikan seseorang bertanya kepada Yesus ’Sebesar apakah cintaMu kepadaku?’ Dia merentangkan kedua tanganNya yang terpaku di kayu salib itu dan berkata ’Sebesar ini.’ Anda dan saya dapat menikmati cinta kasihNya. Selamat menyambut Paskah.

* penulis seorang warga jemaat GPIB Bukit Moria di Jakarta

Sunday, July 15, 2007

Medicine and Religion

Some of the dramatic change that is happening at present is the number of people looking for healing of the body in their religious activities. This is mostly due to the number of religious ministries who are offering this divine healing that offer almost instant recovery from so many physical illnesses. And if this does not help them, then they keep on looking for other ministry that gives them satisfaction, even for a temporary. When we watch TV ministry that offer this event happening before our eyes, we can not stop thinking, is this real, or is this just suggestion ? But is that the right way to join a church ? I happen to be a member of church assembly for many years in Indonesia, and I have witnessed so many people have abandoned our conservatif mainstream church that does not put this rituals in our service. Health have become their main motive to join a church. Medicine become most important, rather than spiritual salvation. I am quoting some of the observations made by Olivier Clerc, a French writer in his book "Médecine, Religion et Peur; l’influence cachée des croyances” . He noted the following changes that are happening right now in many parts of the world, but mostly in Catholic settings :

- physicians have taken the place of priests;

- vaccination plays the same initiatory role as baptism, and is accompanied by the same threats and fears;

- the search for health has replaced the quest for salvation;

- the fight against disease has replaced the fight against sin;

- eradication of viruses has taken the place of exorcising demons;

- the hope of physical immortality (cloning, genetic engineering) has been substituted for the hope of eternal life;

- pills have replaced the sacrament of bread and wine;

- donations to cancer research take precedence over donations to the church;

- a hypothetical universal vaccine could save humanity from all its illnesses, as the Saviour has saved the world from all its sins;

- the medical power has become the government’s ally, as was the Catholic Church in the past;

- "charlatans” are persecuted today as "heretics” were yesterday;

- dogmatism rules out promising alternative medical theories;

- the same absence of individual responsibility is now found in medicine, as previously in the Christian religion;

- patients are alienated from their bodies, as sinners used to be from their souls.

People are still being manipulated by their fears and childish hopes. They are still told that the source of their problems is outside them, and that the solution can only come from the outside. They are not allowed to do anything by themselves and they must have the mediation of priest-physicians, the administration of drug-hosts, and the protection of vaccine-absolutions.(end quote)

Medical technology progress very fast, and sometimes it is frightening to imagine what can happen in the near future, especially in the field like cloning and stem cells research. People will depend more and more upon this medical breakthrough and young people especially might have second thoughts about joining or leaving a religion. Medicine promise so much, even to extend life expectancy, improve physical appearance, energy, and satisfaction. Can our religion compete with that ?